Wednesday, July 5, 2017

Resensi Buku dimuat di Radar Sampit 02 Juli 2017: Menangkap Imajinasi Anak yang Tak Terbatas

Buku KKPK Luks Magic Cookies ini adalah buku cetakan ke sekian kalinya dari pertama cetak tahun 2010. Itu sebabnya di cover buku disebut sebagai Gold Edition.

Saya cukup penasaran, dengan isi buku cerita anak yang dicetak berulang-ulang. Ternyata, setelah membuka buku ini, memang tak heran, mengapa buku KKPK ini menjadi best seller.

Ide-ide cerita yang ada di dalamnya membuat saya tercenung. Imajinasi anak memang ajaib! Saya, sebagai orang dewasa yang senang menulis cerita anak, banyak belajar dari ide-ide cerita di buku ini. Salut untuk kakak-kakak editor Penerbit Mizan, yang sudah menangkap dan memberi wadah untuk ide-ide ajaib para penulis cilik KKPK.

Sedikit ulasan buku ini, dimuat di Radar Sampit 02 Juli 2017






Menangkap Imajinasi Anak yang Tak Terbatas


Judul               :  Magic Cookies
Penulis             :  Muthia Fadhila Khairunnisa (Thia), dkk
Penyunting      :  Ridwan Fauzy dan Yuni Mulyawati
Penerbit           :  Dar! Mizan
Tahun              :  Edisi II, Cetakan I, Maret 2017
Tebal               :  168 halaman
ISBN               :  978-602-420- 166-1

            Tak bisa dipungkiri bahwa imajinasi anak-anak begitu luas dan tak terbatas. Buku serial KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) hadir, menjadi wadah dari imajinasi dan kreatifitas mereka. Penulis cilik yang pertama kali mengusung lahirnya serial KKPK adalah Sri Izzati, yang akhirnya diikuti oleh penulis-penulis cilik lainnya.
            Saat penulis-penulis cilik itu kini beranjak remaja, nama-nama baru bermunculan menghadirkan ide-ide baru yang terus menyemarakkan serial buku KKPK. Istimewanya, penulis-penulis baru itu semula hanya menjadi pembaca buku anak.
            Tentunya serial buku KKPK kini sudah tak asing lagi di tengah anak-anak Indonesia. Cerita-cerita baru serial ini selalu dinantikan kehadirannya di toko buku untuk menjadi teman bacaan sekaligus koleksi di rak buku mereka. Bahkan beberapa judul buku pun mengalami cetak ulang karena terus dicari oleh penggemar ciliknya. Salah satunya adalah buku serial KKPK Luks berjudul Magic Cookies.
            Keistimewaan dari serial KKPK Luks Magic Cookies adalah berisi cerpen-cerpen yang merupakan hasil seleksi dari 71 karya peserta pelatihan penulisan KKPK di Bandung dan Jakarta. 20 cerita yang terseleksi tentu saja merupakan cerita-cerita yang asyik dengan ide menakjubkan. Tak mengherankan apabila buku ini terus menerus dicetak ulang dan berganti edisi cover sampai sekarang.
            Seperti salah satunya adalah cerita tentang seorang anak bernama Alifia Cookies yang suka sekali memakan kue. Tapi sayangnya, ia tak pernah membantu ibunya membuat kue. Kesukanya hanya makan dan makan menghabiskan kue-kue buatan ibunya. Suatu saat, ia memakan kue ajaib dan terdampar di negeri kue (halaman 43).
            Awalnya Alifia merasa senang berada di dunia ajaib negeri kue, dimana kue yang selalu dilahapnya tak pernah habis. Namun lama-lama, ia menjadi bosan, dan ingin kembali ke dunia aslinya. Ia ingin kembali bertemu dengan ibu.
            Ternyata tak semudah itu untuk kembali. Ibu Peri penyuka brownies memberi syarat pada Alifia untuk membuat sebuah rumah cookies. Pekerjaan yang tidak mudah dilakukan seorang diri. Tentu Alifia terpaksa berlelah-lelah untuk membuatnya. Dari situ Alifia sadar, kalau ibunya pasti kelelahan untuk menyiapkan kue-kue yang setiap hari selalu dihabiskannya. (halaman 46).
            Selain ide ceritanya yang luar biasa, cerita ini mengandung pesan sederhana yang dapat dipetik oleh pembacanya. Bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, diperlukan adanya usaha untuk menggapainya.
            Cerita lainnya dengan ide unik adalah kisah tentang doa yang buruk. Bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Adolf yang tidak menyukai teman sekelasnya yang sombong dan jahil. Suatu kali, anak jahil itu mendorong tubuh Adolf sampai kepalanya terbentur pintu loker. Tentu saja Adolf yang merasa kesakitan menjadi marah. Ia mendoakan sesuatu yang buruk pada teman jahilnya itu.
            Namun saat pelajaran agama, Adolf membaca buku agama tentang doa di sebuah paragraf,  Jika kamu mendoakan sesuatu yang baik, Malaikat akan mengaminkan, lalu berkata, “Dan bagimu juga!” Begitu juga sebaliknya (halaman 99). Adolf yang tadi sudah sempat mendoakan sesuatu yang buruk pada temannya, menjadi resah. Adolf tak ingin doanya akan kembali pada dirinya.
            Saat hendak mencari temannya untuk meminta maaf, ternyata doanya terkabul. Sesuatu menabraknya, persis seperti isi doa untuk temannya itu. Rasa marah di hati Adolf membuat ia lupa dan kembali menggerutu, “Awas, ya. Aku doakan kamu jadi katak!” (halaman 100).
Lalu mungkinkan Adolf ikut berubah menjadi katak?
            Cerita itu menunjukkan imajinasi penulis cilik yang patut diapresiasi. Selain itu, pesan yang terselip di dalamnya cukup dalam. Penulis ingin mengajak teman-teman pembacanya agar tidak memelihara dendam di dalam hati.   
            Masih ada 18 cerita asyik lainnya yang sayang untuk dilewatkan. Tentunya, selain menghibur cerita-cerita itu bisa menginspirasi anak-anak Indonesia agar gemar membaca dan lebih semangat untuk berkarya.    




No comments: