Monday, July 31, 2017

Resensi Buku dimuat di Kabar Madura 26 Juli 2017: Memetik Pesan dari Anak Rimba

Sebetulnya naskah resensi ini dikirim sudah cukup lama. Hampir dua bulan tak ada kabar penampakannya di koran. Tiba-tiba, hari Minggu lalu dikirimi pesan inbox dari teman-teman komunitas peresensi penampakan dari naskah resensi salah satu buku serial PECI ini.







Memetik Pesan dari Anak Rimba

   

Judul               :  Pesan Rahasia dari Hutan Rimba
Penulis             :  Wahyu Noor S.
Penerbit           :  Penerbit Lintang
Tahun              :  Desember, 2016
Tebal               :  127 halaman
ISBN               :  978-602-6334-12-1

            Pernah mendengar musik alam? Zen baru saja mendengarnya saat ia diajak ayahnya berlibur ke Jambi. Zen mendengar suara para binatang saling sahut menyahut kompak, serasi dan indah. Suara yang tak pernah ia temui saat berada di rumahnya di kota besar.         
            “Jelajahilah hutan sesukamu, pasti kamu akan mendapatkan banyak pelajaran di sana.” Perkataan dari Om Huda itulah yang selalu diingat oleh Zen. Selama mengisi liburannya, Zen memang ingin mencoba bermain di hutan. Tapi tentu saja kedua orangtuanya tak mengizinkan. Tak disangka saat hendak menangkap kelinci, ternyata Zen bersama kedua teman barunya, Ahmad dan Ruli, benar-benar tersesat di dalam hutan!
            Saat tersesat di dalam hutan, Zen, Ahmad dan Ruli menemui banyak hal. Diantaranya adalah bertemu dengan warga Suku Anak Dalam penghuni kedalaman rimba. Zen teringat, mereka adalah anak-anak rimba yang pernah Zen temui sebelumnya di desa tempat ia tinggal berlibur. Anak-anak warga Suku Anak Dalam yang tidak berbaju, membawa tombak dan parang dan mencari makan ke desa.
            Awalnya Zen dan teman-temannya merasa takut pada warga Suku Anak Dalam itu. Tapi ternyata setelah beberapa waktu Zen dan teman-temannya berkumpul bersama warga Suku Anak Dalam itu, Zen merasa bahwa mereka tidaklah begitu menakutkan. Bahkan Zen, Ahmad dan Ruli akhirnya mengetahui kalau keberadaan Suku Anak Dalam itu akan terancam punah apabila hutan tempat tinggal mereka ditebang atau dibakar oleh warga desa dan pemerintah. Saat Zen, Ahmad dan Ruli bisa keluar dari dalam huhtan, mereka membawa pesan dari warga Suku Anak Dalam, yang harus mereka sampaikan pada orang-orang yang tinggal di luar hutan.
            Selain kisah petualangan ketiga anak Zen, Ahmad dan Ruli yang tersesat di dalam hutan, ada satu lagi karakter yang cukup menonjol di dalam cerita. Karakter Ayah Ruli, yang digambarkan mempunyai sikap keras pada Ruli, anaknya, namun akhirnya tersadar saat anaknya menghilang tersesat di dalam hutan. Dari karakter Ayah Ruli, penulis ingin menyelipkan pesan bahwa terkadang kehilangan membuat seseorang menyadari arti keberadaan dari orang-orang terdekat di sekelilingnya.     
            Melalui cerita ini, penulis banyak menyampaikan pengetahuan tentang keberadaan Suku Anak Dalam, tentang cara hidup mereka serta masalah-masalah yang mereka alami. Penulis mengemasnya dalam cerita seru dan ramah untuk anak. Alurnya yang menarik, membuat pembaca seakan ikut terbawa dalam ketegangan memasuki rimba berlantara.  
            Di tengah serbuan teknologi gadget yang kian mudah untuk diakses, buku ini sangat bagus untuk dihadirkan di tengah keluarga terutama untuk anak-anak. Tentunya buku ini dapat mengingatkan mereka, jikalau alam dapat memberikan cerita yang asyik dan seru untuk dijelajahi.

             

No comments: