Friday, March 24, 2017

Resensi Buku Anak di Koran Pantura 06 Maret 2017: Mencintai Allah Sejak Dini

Pengalaman punya anak seumuran PG dan TK, kadang suka terbengong-bengong sendiri saat dengar pertanyaan-pertanyaan kritis. Terutama pertanyaan tentang Tuhan.  Maklum, umur-umur segitu memang rasa ingin tahunya sedang tumbuh pesat. Makanya, emaknya hati-hati sekali untuk menjawabnya. Karena memang apa yang anak seumuran itu pahami sebatas apa yang ditangkap oleh panca inderanya.

Buku ini bisa membantu buat para emak yang punya anak-anak kritis seperti itu. Yang belum punya pertanyaan kritis pun, bisa kita ceritakan isi buku ini supaya anak mudah menangkap konsep Ketuhanan. Buku yang recommended untuk para emak...

Ini resensinya yang sudah dimuat di Harian Pantura 06 Maret 2017







Mencintai Allah Sejak Dini



Judul               :  How To Love Allah
Penulis             :  Abu Razifa
Penerbit           :  Dar Mizan
Tahun              :  Edisi Baru Cetakan Pertama Oktober, 2016
Tebal               :  112 halaman
ISBN               :  978-602-242-958-6

            Tak kenal maka tak sayang. Tentu saja, untuk menyayangi atau mencintai, kita harus mengenal terlebih dahulu apa yang kita cintai. Demikian juga kecintaan pada Allah. Sebelum mencintai Allah, seorang hamba harus belajar mengenali penciptanya terlebih dahulu.
            Proses mengenali Allah dilakukan melalui pendidikan ketauhidan. Mengenalkan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallaah adalah pendidikan awal yang harus diajarkan semenjak usia anak-anak. Dengan tauhid yang kuat, akan menjadi pondasi seorang anak agar dapat memupuk rasa cinta dan taat pada Allah.    
            Namun bukanlah perkara mudah untuk menerangkan dan menguraikan tentang Allah kepada anak-anak. Di pekembangan usia dini (2-6 tahun), kemampuan berpikirnya masih di tahap konkret. Mereka belajar melalui indera-indera yang ditangkapnya. Sesuatu yang abstrak akan sulit diterima oleh mereka.
            Di sini orang tualah yang berperan besar untuk membimbing dan mengenalkan Allah dengan pemahaman yang benar. Buku ini memberi panduan bagaimana mengajak dan menuntun anak-anak agar mengenal Allah sekaligus mencintai-Nya. Diantaranya adalah melalui kalimah-kalimah thayyibah, melalui media alam dan melalui sesuatu yang dirasa asyik untuk anak-anak seperti cerita, bermain, bernyanyi dan berpuisi.
            Ketika anak mulai mempunyai rasa ingin tahu yang kuat, akan muncul-pertanyaan-pertanyaan kritis tentang eksistensi Allah. Cerita-cerita anak yang hadir di buku ini pun memunculkan  pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang Allah, yang sering kali diucapkan anak-anak pada orang tuanya. Seperti cerita saat seorang anak yang sedang berjalan-jalan di pagi hari. Ketika melihat pohon mangga, ia bertanya pada ibunya, “Bu, siapakah yang menciptakan pohon mangga?” Atau cerita lain dengan pertanyaan, “Siapakah Allah?”, “Siapa yang menurunkan hujan?”, “Apakah Allah punya ayah dan ibu?”, “Apakah Allah makan, minum dan tidur?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya.  
            Dalam buku ini, penulis juga menghadirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kritis itu sesuai ayat-ayat Al-Quran dan kemampuan berpikir anak. Penulis menghadirkan jawaban dengan memberikan contoh-contoh melalui media alam, yang menunjukkan adanya kuasa Allah sebagai pencipta semesta alam.
            Selain itu di setiap kisah, selalu terdapat  kalimah-kalimah thayyibah diantaranya Alhamdulillah, Allahu Akbar, Subhanallah, Laa ilaha illallah. Dengan mengenalkan dan membiasakan menyebut kalimah thayyiban, perlahan anak dapat dikenalkan konsep bersyukur, yakin dan iman terhadap kebesaran Allah, dan konsep Allah maha tunggal.
            Buku How To Love Allah ini terbagi menjadi tiga bagian. Yang pertama adalah bagaimana mengenali Allah, yang kedua mengajak dan menuntun beribadah sebagai tanda cinta kepada Allah. Dan yang ketiga adalah ajakan untuk menjauhi maksiat. Menariknya, selain berisi cerita-cerita sederhana, terdapat puisi, doa, lagu dan permainan seru yang mengajak anak semakin mengenal dan cinta pada Allah.


Diresensi oleh Ruri Irawati, Penulis dan Pembaca Cerita Anak  

No comments: