Mencoba membuat resensi buku balita yang ceritanya sederhana hanya terdiri dari 20 halaman... Buku ini jadi buku favorit bungsu saya yang masih balita. Walaupun belum mengerti huruf, dia senang sekali bolak balik lembaran buku dan menceritakan gambar di dalamnya...
Alhamdulillah resensinya dimuat di Harian Kabar Madura, 08 Januari 2018
Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts
Thursday, January 25, 2018
Tuesday, November 7, 2017
Resensi Buku dimuat di Harian Singgalang 5 november 2017: Kekuatan Cinta untuk Sang Bunda
Buku Aku Sayang Bunda ini, memang sudah lama saya cari dari beberapa tahun yang lalu. Semenjak belajar menulis di kelas merah jambu, mbak Nurhayati Pujiastuti sudah menyebut judul ini. Teman-teman lain pun menyebut buku ini ceritanya direkomendasikan untuk belajar menulis cerita anak. Tapi sayang, bukunya sudah tidak lagi beredar di pasaran.
Beberapa bulan yl, tidak sengaja saya melihat cover buku ini muncul lagi di status FB Penerbit Indiva. Saya coba ajukan permintaan reward dari resensi buku Indiva yang lain. Dan, alhamdulillah... terima kasih kakak Indiva sudah mengirim buku Aku Sayang Bunda dan Zia Anak Hebat karya Kak Linda Satibi, ke rumah saya.
Dan memang tidak salah... Buku ini cocok sekali untuk direkomendasikan.... Berikut resensinya...
Beberapa bulan yl, tidak sengaja saya melihat cover buku ini muncul lagi di status FB Penerbit Indiva. Saya coba ajukan permintaan reward dari resensi buku Indiva yang lain. Dan, alhamdulillah... terima kasih kakak Indiva sudah mengirim buku Aku Sayang Bunda dan Zia Anak Hebat karya Kak Linda Satibi, ke rumah saya.
Dan memang tidak salah... Buku ini cocok sekali untuk direkomendasikan.... Berikut resensinya...
Kekuatan Cinta untuk Sang Bunda
Judul : Aku Sayang Bunda
Penulis : Nurhayati Pujiastuti
Penyunting : Ririen Djoemadi
Penerbit : Penerbit Lintang Indiva
Tahun :
Cetakan 4 - Desember, 2016
Tebal : 96 halaman
ISBN :
978-602-8277-36-5
Bagi sebagian anak, sosok ibu tiri
masih dianggap sebagai sosok yang menyeramkan. Cerita-cerita tentang sosok ibu
tiri yang kejam, begitu melekat di benak anak-anak. Padahal tak semua ibu tiri
memperlakukan anak-anaknya dengan tidak baik. Salah satunya ibu tiri yang merawat
Nayla.
Awalnya Nayla tak percaya akan
cerita Wati, temannya, yang mengatakan kalau bundanya sekarang bukanlah bunda
betulan (halaman 7). Nayla yakin, bundanya terlalu baik untuk menjadi seorang
ibu tiri. Tapi setelah mencari tahu, Nayla mendapati bahwa ia memang mempunyai
bunda lain, selain bunda yang kini tinggal bersama dan merawatnya. Bunda
betulan, bunda yang mengandung dan melahirkannya.
Cerita terus bergulir. Nayla mencoba
mencari keberadaan bunda betulannya. Nayla akhirnya mengetahui kalau ternyata
bunda betulannya adalah seseorang yang berpenyakit jiwa. Bundanya harus selalu
dikurung karena sering mengamuk, berteriak dan melotot menyeramkan. Bahkan
bundanya itu menjadi bahan ejekan anak-anak, sehingga membuat Nayla menangis. Dan
yang menyedihkan, neneknya bahkan tak mau memberikan pengobatan untuk bundanya.
Walaupun takut dan malu, tapi sebagai seorang anak Nayla juga ingin membantu
sang bunda. Dengan kemampuan Nayla sebagai seorang anak-anak, ia berusaha untuk
membuat sang bunda untuk mendapatkan pengobatan yang layak (halaman 60).
Tak banyak kita temui buku yang
berkisah dengan tema masalah berat yang dihadapi oleh seorang anak, seperti
masalah yang dihadapi oleh Nayla. Bagi seorang anak, mengetahui memiliki ibu kandung
yang berpenyakit jiwa tentu bukanlah perkara mudah. Namun penulis cerita,
Nurhayati Pujiastuti, mampu mengemas kisah yang berat itu menjadi sebuah kisah
yang inspiratif untuk anak-anak.
Novel fiksi anak ini, ceritanya mengalir
lincah. Di setiap akhir bab selalu ada bagian cerita yang membuat penasaran
untuk membuka bab selanjutnya. Di akhir cerita, pembaca dapat menangkap banyak
pesan. Diantaranya, bahwa anggapan umum tentang ibu tiri belumlah tentu benar.
Dan pesan yang paling inspiratif adalah, bahwa setiap anak punya kekuatan untuk
bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya walau berat sekalipun. Kekuatan itu
berasal dari dalam hati berupa rasa kasih sayang.
Tak heran jika novel anak islami ini
menjadi pemenang cerita fiksi anak terbaik IKAPI IBF (Islamic Book Fair) tahun
2012. Novel ini terus dicetak ulang dari tahun pertama penerbitan 2012 sampai
sekarang mencapai cetakan ke-empat. Oleh karenanya, novel ini sungguh sayang
untuk dilewatkan. Selamat membaca…
Wednesday, August 16, 2017
Resensi Buku dimuat di Harian Singgalang 13 Agustus 2017: Teladan dari Kisah Masa Kecil Nabi dan Rasul
Buku ini sudah dapat tanda tangan dari penulisnya langsung, Kang Iwok Abqary. Walapun pertama kali dicetak tahun 2010, tapi di tahun ini kembali cetak ulang. Itu pasti karena buku ini banyak manfaatnya untuk anak-anak. Membuka wawasan krucil-krucil di rumah, tentang sejarah masa kecil Nabi dan Rasul.
Berikut, isi resensinya. Dimuat di Harian Singgalang 13 Agustus 2017
Mau tahu lebih detail isi bukunya? Yuk dicari di rak buku anak di toko-toko buku...
Selamat membaca :)
Berikut, isi resensinya. Dimuat di Harian Singgalang 13 Agustus 2017
Mau tahu lebih detail isi bukunya? Yuk dicari di rak buku anak di toko-toko buku...
Selamat membaca :)
Teladan dari Kisah Masa Kecil Nabi
dan Rasul
Judul : Masa Kecil Nabi dan Rasul
Penulis : Ridwan Abqary
Penyunting : Ridwan Fauzy, Yuni Mulyawati dan Rangga
Saputra
Penerbit : Dar! Mizan
Tahun :
Cetakan I, Maret 2017
Tebal : 116 halaman
ISBN :
978-602-420- 100-5
Setiap orang besar pasti memiliki
masa kecil. Tak terkecuali orang-orang pilihan Allah seperti Nabi dan Rasul.
Dan sebagai orang-orang terpilih, masa kecil Nabi dan Rasul pun tentu memiliki
keunikan tersendiri dibandingkan masa kecil orang-orang biasa.
Dalam buku Masa kecil Nabi dan
Rasul, merangkum 9 kisah yang dialami oleh Nabi dan Rasul semasa kecilnya. Salah
satunya adalah kisah masa kecil Nabi Ibrahim A.S yang dilahirkan pada jaman
kekejaman Raja Namrud. Nabi Ibrahim lahir dan besar di sebuah goa yang
tersembunyi, karena Raja Namrud tak ingin ada seorang bayi laki-laki pun yang
terlahir di wilayah kerajaannya. Dalam keadaan bayi yang baru berumur beberapa
hari, Ibrahim harus berpisah dari kedua orang tuanya dan tinggal sendiri di
dalam goa. Namun, atas kuasa-Nya, Allah memberikan mujikzat pada Nabi Ibrahim
melalui air susu yang memancar dari ibu jarinya (halaman 15). Ia tumbuh besar
dan selamat dari kekejaman Raja Namrud.
Saat Nabi Ibrahim mulai beranjak
besar, ia mulai bertanya-tanya tentang pekerjaan ayahnya sebagai pembuat
berhala. Ia juga heran mengapa berhala buatan ayahnya, kemudian disembah oleh
orang-orang yang membelinya. Ia sama sekali tidak menyakini kalau
berhala-berhala itu adalah Tuhan seperti yang orang-orang katakan (halaman 23).
Nabi Ibrahim kecil selalu berpikir
bahwa Tuhan itu pasti ada. Ia terus mencari keberadaan Tuhan. Saat melihat
bintang, bulan dan matahari, ia sempat mengira kalau itu adalah Tuhan. Namun
saat malam berganti siang dan siang berganti malam, benda-beda langit itu pun
menghilang dan berganti. Nabi Ibrahim kecil tak suka Tuhan yang menghilang. Ia
menyadari kalau benda-benda itu pun bukanlah Tuhan. Pada akhirnya Allah SWT,
membukakan hati Ibrahim dan memberi petunjuk agar tidak mempersekutukan Tuhan
dengan ciptaan-Nya termasuk bumi dan langit (halaman 26).
Begitupun dengan masa kecil Nabi
Muhammad SAW. Semenjak lahir, beliau tidak pernah disusui oleh ibunya. Beliau
disusui dan dirawat oleh perempuan bernama Halimah As-Sa’diyyah. Saat berumur
tiga tahun, Muhammad kecil mengalami kejadian yang tidak biasa. Dua orang
laki-laki yang tak dikenal membawa Muhammad kecil. Halimah merasa cemas
kalau-kalau Muhammad kecil dicelakai orang. Saat mencarinya, Halimah menemukan
Muhammad kecil duduk di tengah lapang. Orang-orang di sekitar lapangan
menceritakan kalau dua orang yang membawanya itu telah membuka atau membelah
dada Muhammad. Untunglah Muhammad kecil masih selamat.
Tak berapa lama, Halimah akhirnya
mengetahui. Atas perintah Allah SWT, malaikat Jibril telah ditugaskan untuk
membersihkan dan menyucikan hati Muhammad (halaman 110). Saat membuka dada
Muhammad, malaikat Jibril membuang segumpal darah kotor dan mencuci jantungnya
dengan air zamzam lalu dikembalikan ke tempat semula.
Dari kisah-kisah diatas, dapat
dilihat bahwa Allah telah mempersiapkan orang-orang yang terpilih untuk menjadi
Nabi dan Rasul dari semenjak kecil. Atas kuasa-Nya mereka diberikan bekal,
mujikzat bahkan ujian dan cobaan. Semenjak kanak-kanak, mereka sudah ditempa
agar di saat dewasa siap untuk menjalankan tugas sebagai utusan Allah untuk
menyampaikan wahyu bagi umatnya.
Tentunya kisah-kisah masa kecil Nabi
dan Rasul lainnya juga tak kalah menarik. Seperti masa kecil Nabi Ismail A.S
yang akan dikurbankan, Nabi Yusuf A.S yang dijatuhkan ke sumur tua, Nabi Musa A.S
yang dihanyutkan di sungai, Nabi Isa A.S yang mampu bicara ketika baru lahir,
dan kisah-kisah masa kecil nabi lainnya.
Dengan membaca kisah-kisah masa
kecil Nabi dan Rasul di dalam buku ini, anak-anak dapat mengambil hikmahnya dan
menjadikan teladan untuk mereka.
Diresensi oleh Ruri Irawati, Pembaca dan
Penulis Cerita Anak
Monday, July 31, 2017
Resensi Buku dimuat di Kabar Madura 26 Juli 2017: Memetik Pesan dari Anak Rimba
Sebetulnya naskah resensi ini dikirim sudah cukup lama. Hampir dua bulan tak ada kabar penampakannya di koran. Tiba-tiba, hari Minggu lalu dikirimi pesan inbox dari teman-teman komunitas peresensi penampakan dari naskah resensi salah satu buku serial PECI ini.
Memetik Pesan dari Anak Rimba
Judul : Pesan Rahasia dari Hutan Rimba
Penulis : Wahyu Noor S.
Penerbit : Penerbit Lintang
Tahun :
Desember, 2016
Tebal : 127 halaman
ISBN :
978-602-6334-12-1
Pernah mendengar musik alam? Zen
baru saja mendengarnya saat ia diajak ayahnya berlibur ke Jambi. Zen mendengar
suara para binatang saling sahut menyahut kompak, serasi dan indah. Suara yang
tak pernah ia temui saat berada di rumahnya di kota besar.
“Jelajahilah hutan sesukamu, pasti
kamu akan mendapatkan banyak pelajaran di sana.” Perkataan dari Om Huda itulah
yang selalu diingat oleh Zen. Selama mengisi liburannya, Zen memang ingin
mencoba bermain di hutan. Tapi tentu saja kedua orangtuanya tak mengizinkan. Tak
disangka saat hendak menangkap kelinci, ternyata Zen bersama kedua teman
barunya, Ahmad dan Ruli, benar-benar tersesat di dalam hutan!
Saat tersesat di dalam hutan, Zen,
Ahmad dan Ruli menemui banyak hal. Diantaranya adalah bertemu dengan warga Suku
Anak Dalam penghuni kedalaman rimba. Zen teringat, mereka adalah anak-anak
rimba yang pernah Zen temui sebelumnya di desa tempat ia tinggal berlibur. Anak-anak
warga Suku Anak Dalam yang tidak berbaju, membawa tombak dan parang dan mencari
makan ke desa.
Awalnya Zen dan teman-temannya merasa
takut pada warga Suku Anak Dalam itu. Tapi ternyata setelah beberapa waktu Zen
dan teman-temannya berkumpul bersama warga Suku Anak Dalam itu, Zen merasa
bahwa mereka tidaklah begitu menakutkan. Bahkan Zen, Ahmad dan Ruli akhirnya
mengetahui kalau keberadaan Suku Anak Dalam itu akan terancam punah apabila
hutan tempat tinggal mereka ditebang atau dibakar oleh warga desa dan
pemerintah. Saat Zen, Ahmad dan Ruli bisa keluar dari dalam huhtan, mereka
membawa pesan dari warga Suku Anak Dalam, yang harus mereka sampaikan pada
orang-orang yang tinggal di luar hutan.
Selain kisah petualangan ketiga anak
Zen, Ahmad dan Ruli yang tersesat di dalam hutan, ada satu lagi karakter yang
cukup menonjol di dalam cerita. Karakter Ayah Ruli, yang digambarkan mempunyai
sikap keras pada Ruli, anaknya, namun akhirnya tersadar saat anaknya menghilang
tersesat di dalam hutan. Dari karakter Ayah Ruli, penulis ingin menyelipkan
pesan bahwa terkadang kehilangan membuat seseorang menyadari arti keberadaan dari
orang-orang terdekat di sekelilingnya.
Melalui cerita ini, penulis banyak
menyampaikan pengetahuan tentang keberadaan Suku Anak Dalam, tentang cara hidup
mereka serta masalah-masalah yang mereka alami. Penulis mengemasnya dalam
cerita seru dan ramah untuk anak. Alurnya yang menarik, membuat pembaca seakan ikut
terbawa dalam ketegangan memasuki rimba berlantara.
Di tengah serbuan teknologi gadget
yang kian mudah untuk diakses, buku ini sangat bagus untuk dihadirkan di tengah
keluarga terutama untuk anak-anak. Tentunya buku ini dapat mengingatkan mereka,
jikalau alam dapat memberikan cerita yang asyik dan seru untuk dijelajahi.
Wednesday, July 12, 2017
Resensi Buku dimuat di Kabar Madura 05 Juli 2017: Menyelami Pemikiran Ki Ageng Suryomentaram
Buku ini bacaannya pak misua, yang kebetulan tergeletak di meja kamar. Nggak sengaja ikutan baca, ternyata banyak nilai-nilai sederhana yang bisa diambil dari buku ini.
Berikut cacatan kecilnya, dibuat semacam resesnsi. Coba kirim ke media, alhamdulillah dimuat di Kabar Madura.
Berikut cacatan kecilnya, dibuat semacam resesnsi. Coba kirim ke media, alhamdulillah dimuat di Kabar Madura.
Menyelami Pemikiran Ki Ageng
Suryomentaram
Judul : Ki Ageng Suryomentaram, Sang Plato dari Jawa
Penulis : Ratih Sarwiyono
Penerbit : Cemerlang Publishing
Tahun :
Cetakan Pertama 2017
Tebal : 200 halaman
ISBN :
978-602-1348-55-0
Sebagai seorang pangeran dari istana
Kraton Yogyakarta, RM. Kudiarmaji yang kemudian diberi gelar Pangeran
Suryomentaram, selalu hidup dalam kegelisahan bathin yang luar biasa. Sekalipun
ia kaya dan berkuasa, namun itu tidak membuat ia merasa menjadi manusia normal.
Sebagaimana Pengeran Sidharta Gautama, ia merasa terkungkung oleh kemegahan dan
kemewahan hingga tidak bisa merasakan kehidupan yang sesungguhnya.
Untuk menemukan jati dirinya,
keluarlah Pangeran Suryomentaram dari kraton dan tinggal di desa Bringin,
Salatiga, sebagai petani biasa. Di desa itu, ia lebih bebas berpikir dan
merenung. Bahkan saat ia mengayunkan cangkul di ladang, terpikir olehnya akan
kemurahan Tuhan yang melimpahkan kesuburan pada manusia. Sehingga tugas dirinya
sebagai manusia adalah dapat mengolah tanah subur itu dengan ilmu dan ketekunan
hingga menghasilkan bahan makanan yang nikmat bagi dirinya dan sesama manusia
lainnya (halaman 12).
Pemikiran-pemikiran KiAgeng
Suryomentaram sungguh berbeda dengan pemikiran tokoh-tokoh budaya lain di masa
itu yang lebih percaya akan mitos. Pemikiran filosofisnya rasional jauh dari
mistisisme, sebagaimana Plato pemikir kritis dari Yunani abad 3 SM. Seorang
ahli sejarah dari Universitas Paris bernama Marcell Boneff bahkan telah
mempelajari pemikiran Ki Ageng secara lengkap, kemudian menulis buku dalam bahasa Perancis, berjudul
‘Ki Ageng
Suryomentaram, Prince et Philoshope Javanais’ (halaman 13).
Ki
Ageng Suryomentaram meninggalkan sebuah warisan yang sangat berharga,
yaitu kawruh pangawikan pribadi,
atau kawruh
jiwa. Sebuah pengetahuan agar manusia dapat melepaskan segala atribut
duniawi sehingga dapat menemukan kebahagiaan dan ketentraman yang sejati. Buku
ini ditulis untuk menyampaikan tentang ilmu kebahagiaan atau kawruh beja yang dirumuskan oleh Ki Ageng Suryomentaram yang sempat dicatat oleh
murid-muridnya, para aktivis Taman Siswa.
Menurut Ki Ageng, benih dari ilmu
pengetahuan adalah “Rasa” di dalam jiwa
manusia (halaman 27). Untuk mendapatkan kebahagiaan diawali dengan pemahaman
tentang pengetahuan diri sebagai manusia yang memiliki “rasa”.
Pada dasarnya, manusia itu semuanya
sama, mempunyai “rasa” sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang,
sebentar susah, demikian seterusnya (halaman 68). “Rasa” itu dialami oleh
seluruh manusia dan bersifat abadi sepanjang hidup. Apabila manusia dapat
memahami sifat dari “rasa” itu, maka bebaslah ia dari penderitaan iri hati dan
sombong dan kemudian bisa masuk surga ketentraman. Artinya dalam segala hal, ia
akan bertindak secukupnya, semestinya dan sebenarnya (halaman 82).
Keinginan-keinginan manusia yang tidak terlaksana pun, dapat terlepas dari
penyesalan dan kekhawatiran.
Ki Ageng Suryomentaram menyebut
kesadaran manusia terbagi menjadi 4 dimensi. Dimensi pertama adalah tukang
rekam. Manusia merekam hal-hal di luar diri melalui inderanya dan hal-hal di
dalam diri melalui “rasa”. Kesadaran dimensi kedua adalah menganggap
rekaman-rekaman itu (kumpulan informasi) sebagai dirinya. Sedangkan dimensi
ketiga yaitu menganggap egonya sebagai diri. Dan yang terakhir adalah kesadaran
bahwa dirinya bukan sekedar ego, tetapi menjadi Pengawas atau Saksi dari setiap
kejadian yang dialaminya (halaman 117-118). Dimensi ke-empat itulah yang
membuat derajat manusia bertambah tinggi karena ia akan selalu merasa menjadi
saksi atas perbuatan-perbuatannya. Apabila dimensi ke-empat sudah tercapai,
maka manusia akan merasakan kedamaian dalam menjalani kehidupannya.
Dalam buku ini, penulis berusaha
memaparkan pemikiran-pemikiran filosofis sederhana Ki Ageng Suryomentaram
melalui contoh-contoh tindakan, sehingga pembaca dapat dengan mudah
memahaminya. Bahkan Marcell Boneff pun mengakui, bahwa pemikiran Ki Ageng
Suryomentaram sangat penting sebagai pencerahan dalam membentuk
pribadi yang cerdas dan cendekia, tanpa kehilangan kepribadian timurnya.
Wednesday, July 5, 2017
Resensi Buku dimuat di Radar Sampit 02 Juli 2017: Menangkap Imajinasi Anak yang Tak Terbatas
Buku KKPK Luks Magic Cookies ini adalah buku cetakan ke sekian kalinya dari pertama cetak tahun 2010. Itu sebabnya di cover buku disebut sebagai Gold Edition.
Saya cukup penasaran, dengan isi buku cerita anak yang dicetak berulang-ulang. Ternyata, setelah membuka buku ini, memang tak heran, mengapa buku KKPK ini menjadi best seller.
Ide-ide cerita yang ada di dalamnya membuat saya tercenung. Imajinasi anak memang ajaib! Saya, sebagai orang dewasa yang senang menulis cerita anak, banyak belajar dari ide-ide cerita di buku ini. Salut untuk kakak-kakak editor Penerbit Mizan, yang sudah menangkap dan memberi wadah untuk ide-ide ajaib para penulis cilik KKPK.
Sedikit ulasan buku ini, dimuat di Radar Sampit 02 Juli 2017
Saya cukup penasaran, dengan isi buku cerita anak yang dicetak berulang-ulang. Ternyata, setelah membuka buku ini, memang tak heran, mengapa buku KKPK ini menjadi best seller.
Ide-ide cerita yang ada di dalamnya membuat saya tercenung. Imajinasi anak memang ajaib! Saya, sebagai orang dewasa yang senang menulis cerita anak, banyak belajar dari ide-ide cerita di buku ini. Salut untuk kakak-kakak editor Penerbit Mizan, yang sudah menangkap dan memberi wadah untuk ide-ide ajaib para penulis cilik KKPK.
Sedikit ulasan buku ini, dimuat di Radar Sampit 02 Juli 2017
Menangkap Imajinasi Anak yang Tak
Terbatas
Judul : Magic Cookies
Penulis : Muthia Fadhila Khairunnisa (Thia), dkk
Penyunting : Ridwan Fauzy dan Yuni Mulyawati
Penerbit : Dar! Mizan
Tahun :
Edisi II, Cetakan I, Maret 2017
Tebal : 168 halaman
ISBN :
978-602-420- 166-1
Tak bisa dipungkiri bahwa imajinasi
anak-anak begitu luas dan tak terbatas. Buku serial KKPK (Kecil-Kecil Punya
Karya) hadir, menjadi wadah dari imajinasi dan kreatifitas mereka. Penulis
cilik yang pertama kali mengusung lahirnya serial KKPK adalah Sri Izzati, yang
akhirnya diikuti oleh penulis-penulis cilik lainnya.
Saat penulis-penulis cilik itu kini
beranjak remaja, nama-nama baru bermunculan menghadirkan ide-ide baru yang terus
menyemarakkan serial buku KKPK. Istimewanya, penulis-penulis baru itu semula
hanya menjadi pembaca buku anak.
Tentunya serial buku KKPK kini sudah
tak asing lagi di tengah anak-anak Indonesia. Cerita-cerita baru serial ini
selalu dinantikan kehadirannya di toko buku untuk menjadi teman bacaan
sekaligus koleksi di rak buku mereka. Bahkan beberapa judul buku pun mengalami
cetak ulang karena terus dicari oleh penggemar ciliknya. Salah satunya adalah
buku serial KKPK Luks berjudul Magic Cookies.
Keistimewaan dari serial KKPK Luks
Magic Cookies adalah berisi cerpen-cerpen yang merupakan hasil seleksi dari 71
karya peserta pelatihan penulisan KKPK di Bandung dan Jakarta. 20 cerita yang
terseleksi tentu saja merupakan cerita-cerita yang asyik dengan ide
menakjubkan. Tak mengherankan apabila buku ini terus menerus dicetak ulang dan
berganti edisi cover sampai sekarang.
Seperti salah satunya adalah cerita
tentang seorang anak bernama Alifia Cookies yang suka sekali memakan kue. Tapi
sayangnya, ia tak pernah membantu ibunya membuat kue. Kesukanya hanya makan dan
makan menghabiskan kue-kue buatan ibunya. Suatu saat, ia memakan kue ajaib dan
terdampar di negeri kue (halaman 43).
Awalnya Alifia merasa senang berada
di dunia ajaib negeri kue, dimana kue yang selalu dilahapnya tak pernah habis.
Namun lama-lama, ia menjadi bosan, dan ingin kembali ke dunia aslinya. Ia ingin
kembali bertemu dengan ibu.
Ternyata tak semudah itu untuk
kembali. Ibu Peri penyuka brownies
memberi syarat pada Alifia untuk membuat sebuah rumah cookies. Pekerjaan yang tidak mudah dilakukan seorang diri. Tentu
Alifia terpaksa berlelah-lelah untuk membuatnya. Dari situ Alifia sadar, kalau
ibunya pasti kelelahan untuk menyiapkan kue-kue yang setiap hari selalu
dihabiskannya. (halaman 46).
Selain ide ceritanya yang luar
biasa, cerita ini mengandung pesan sederhana yang dapat dipetik oleh
pembacanya. Bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, diperlukan
adanya usaha untuk menggapainya.
Cerita lainnya dengan ide unik adalah
kisah tentang doa yang buruk. Bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama
Adolf yang tidak menyukai teman sekelasnya yang sombong dan jahil. Suatu kali,
anak jahil itu mendorong tubuh Adolf sampai kepalanya terbentur pintu loker.
Tentu saja Adolf yang merasa kesakitan menjadi marah. Ia mendoakan sesuatu yang
buruk pada teman jahilnya itu.
Namun saat pelajaran agama, Adolf
membaca buku agama tentang doa di sebuah paragraf, Jika
kamu mendoakan sesuatu yang baik, Malaikat akan mengaminkan, lalu berkata, “Dan
bagimu juga!” Begitu juga sebaliknya (halaman 99). Adolf yang tadi sudah
sempat mendoakan sesuatu yang buruk pada temannya, menjadi resah. Adolf tak
ingin doanya akan kembali pada dirinya.
Saat hendak mencari temannya untuk
meminta maaf, ternyata doanya terkabul. Sesuatu menabraknya, persis seperti isi
doa untuk temannya itu. Rasa marah di hati Adolf membuat ia lupa dan kembali
menggerutu, “Awas, ya. Aku doakan kamu jadi katak!” (halaman 100).
Lalu mungkinkan
Adolf ikut berubah menjadi katak?
Cerita itu menunjukkan imajinasi
penulis cilik yang patut diapresiasi. Selain itu, pesan yang terselip di
dalamnya cukup dalam. Penulis ingin mengajak teman-teman pembacanya agar tidak
memelihara dendam di dalam hati.
Masih ada 18 cerita asyik lainnya
yang sayang untuk dilewatkan. Tentunya, selain menghibur cerita-cerita itu bisa
menginspirasi anak-anak Indonesia agar gemar membaca dan lebih semangat untuk
berkarya.
Thursday, June 15, 2017
Resensi Buku Anak Serial Cuaca (Fifa Dila - Tiga Ananda): Mendekatkan Anak pada Sains
Dapat kiriman buku anak dari penulis cerita anak favorit, itu rasanya senang banget. Mbak Fifa Dila, yang karyanya udah sudah sering banget dimuat di Majalah Bobo. Dan sekarang, bisa baca tulisannya dalam bentuk buku berseri.
Buku cerita anak Serial Cuaca ini jelas berbeda. Karena isinya bercerita tentang sains sederhana yang ditujukan untuk anak-anak 5-8 tahun. Ilmu pengetahuan tentang cuaca ini dikemas menarik, sehingga anak-anak nggak bosan membuka dan membuka lagi lembaran buku ini. Ilmunya dapat, anak-anak juga suka... Good job buat penulisnya, Mbak Fifa Dila...
Terima kasih dan sukses buat bukunya ya... 😊
Buku cerita anak Serial Cuaca ini jelas berbeda. Karena isinya bercerita tentang sains sederhana yang ditujukan untuk anak-anak 5-8 tahun. Ilmu pengetahuan tentang cuaca ini dikemas menarik, sehingga anak-anak nggak bosan membuka dan membuka lagi lembaran buku ini. Ilmunya dapat, anak-anak juga suka... Good job buat penulisnya, Mbak Fifa Dila...
Terima kasih dan sukses buat bukunya ya... 😊
Mendekatkan Sains pada Anak
Judul : Serial Cerita Cuaca - Hujan
Penulis : FiFadila
Penyunting : Yenni Saputri
Penerbit : Tiga Ananda
Tahun :
Cetakan I, Maret 2017
Tebal : 36 halaman
ISBN :
978-602-366- 265-4
Cuaca adalah salah satu peristiwa
alam yang sangat dekat dengan kita. Kehadirannya memberi dampak yang cukup
besar untuk kelangsungan kehidupan di muka bumi. Pada satu sisi, akan membawa
berkah dan manfaat yang luas, namun di sisi lain dapat menjadi bencana yang
merugikan untuk kehidupan. Mengenalkan tentang cuaca pada anak-anak, akan memberi
manfaat yang besar bagi mereka.
Salah satu fenomena cuaca yang tak
asing bagi anak-anak adalah hujan. Hadirnya hujan membawa kegembiraan saat bisa
bermain di tengah-tengahnya. Asalkan dalam kondisi badan yang baik dan tidak
berlama-lama, bermain dalam hujan tentu sangat mengasyikkan. Namun, selain
menikmati hujan, anak-anak perlu mengetahui asal muasal hadirnya hujan. Buku
ini hadir untuk membantu anak-anak mengenal dan mengetahui tentang banyak hal mengenai hujan.
Tentunya dengan bahasa yang sederhana, efektif, mudah dipahami dan menyenangkan.
Dengan tokoh dan sudut pandang butiran hujan,
anak-anak diajak untuk melakukan perjalanan bersama menyusuri siklusnya. Diawali
dengan jatuhnya butiran air dari langit yang tertampung di sebuah awan yang
besar (halaman 10). Butiran hujan yang jatuh ke permukaan bumi terus berpetualang
di dalam tanah, aliran sungai hingga lautan dan akhirnya kembali lagi menjadi
sebuah awan yang besar. Selain itu, tokoh butiran hujan juga bercerita tentang
manfaatnya yang besar untuk kehidupan di permukaan bumi (halaman 20). Tak
ketinggalan, butiran hujan juga memberi pesan akan bahaya yang mungkin bisa
terjadi apabila manusia tidak menjaga lingkungannya (halaman 28).
Dilengkapi dengan ilustrasi yang
menarik dan berwarna-warni, petualangan tokoh si butiran hujan menjadi semakin asyik
untuk diikuti. Cerita dikemas untuk dapat dinikmati dan dipahami oleh anak-anak
rentang usia 5-8 tahun. Namun tidak menutup kemungkinan, anak-anak diluar
rentang umur itu juga dapat menikmati isi buku dan memperkaya wawasan tentang
peritiwa alam cuaca khususnya hujan. Asyiknya lagi di dalam buku ini tersedia
aktifitas eksperimen sederhana yang bisa dilakukan oleh anak-anak bersama
orangtua, terkait dengan pembentukan hujan.
Buku ini merupakan salah satu judul
dari rangkaian seri cerita cuaca yang layak untuk dikoleksi. Terutama untuk
menambah wawasan sains pada anak-anak dengan cara yang asyik dan menyenangkan.
Dimuat di Harian Kabar Madura, 14 Juni 2017
Label:
Resensi,
Resensi buku Fifa Dila,
Resensi buku Tiga Ananda,
Resensi Kabar Madura,
Serial Cuaca
Wednesday, May 24, 2017
Resensi Buku dimuat di Harian Kabar Madura 19 Mei 2017: Keteladanan Sahabat Rasul dalam Cerita Berima
Sebagai penggemar buku-buku Kang Iwok Abqary, senang sekali saat mendapat reward resensi dari Penerbit Mizan, buku karyanya.
Si anak tengah suka sekali bacanya, sambil mencoba-coba membuat kalimat berima... lucu juga...
Dan ternyata memang asyik, membaca cerita berima itu. Kalimat-kalimatnya pendek dan efektif, tapi cerita tetap menarik...
Berikut resensi lengkapnya... :)
Diresensi oleh Ruri Irawati, Pembaca dan
Penulis Cerita Anak
Si anak tengah suka sekali bacanya, sambil mencoba-coba membuat kalimat berima... lucu juga...
Dan ternyata memang asyik, membaca cerita berima itu. Kalimat-kalimatnya pendek dan efektif, tapi cerita tetap menarik...
Berikut resensi lengkapnya... :)
Keteladanan Sahabat Rasul dalam Cerita
Berima
Judul : Cerita Berima 25 Sahabat Rasul
Penulis : Ridwan Abqary
Penyunting : Dadan Ramadhan
Penerbit : Dar! Mizan
Tahun :
Cetakan I, 2017
Tebal : 108 halaman
ISBN :
978-602-420- 278-1
Menanamkan minat baca pada anak,
perlu dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Baik penerbit maupun penulis
buku anak terus mengupayakan konsep buku yang dapat diterima dan disukai oleh
anak. Sementara itu, tugas orangtua dan para pendidiklah yang akhirnya memilih
isi buku mana yang cocok dan menyenangkan untuk anak-anaknya.
Konsep cerita berima adalah salah satu upaya
penulis anak membuat cerita yang berbeda dan menyenangkan. Akhiran kalimat yang
berbunyi sama, bisa membuat anak tersenyum gembira karena terasa lucu dan unik.
Selain itu, dengan kalimat berima, apa yang dibaca oleh anak akan lebih mudah
tersimpan dalam memori otaknya.
Seperti cerita dalam buku ini,
penulis ingin menggambarkan para Sahabat Rasul di dalam kalimat-kalimat yang pendek dan berima. Tak
hanya mengenalkan sebatas nama, tapi di dalamnya berisi cerita kisah hidup dan
juga karakter Sahabat Rasul yang bisa diteladani oleh anak.
Menjadi khalifah pertama setelah
Rasulullah wafat. Dipilih umat secara mufakat. Abu Bakar dipercaya memegang
amanat. Meneruskan perjuangan Rasulullah yang belum tamat (halaman 10).
Bait itu adalah bagian dari kisah pembuka
buku ini, berjudul Abu Bakar Pahlawan Besar. Sebagai khalifah pertama, dikisahkan
bahwa Abu Bakar adalah Sahabat Rasul yang terus bersemangat dan pantang
menyerah, menyebarkan dakwah untuk
meneruskan perjuangan Rasulullah.
Kisah Umar Penyabar menceritakan
Umar bin Khatab yang menjadi khalifah kedua. Diceritakan bahwa awalnya Umar bin
Khatab adalah orang yang sangat memusuhi umat Islam, bahkan ingin melukai
Rasulullah. Namun saat mendengar alunan suara Al-Quran, hati Umar sangat
tersentuh. Akhirnya Umar bin Khatab mengucapkan syahadat dan mengemban tugas
menyebarkan Islam di muka dunia (halaman 14).
Khalifah ketiga adalah Ustman bin Affan.
Beliau mempunyai sifat dermawan. Dengan hartanya yang melimpah, Ustman selalu
bersedekah. Tak ketinggalan, jasa besar Ustman dalam membukukan Al-Quran selalu
tercatat dalam sejarah (halaman 18).
Sebagai khalifah keempat, Ali bin
Abu Thalib dikisahkan sebagai pemimpin yang peduli akan umatnya. Selain itu
beliau dikenal sebagai orang yang jujur dan selalu berbuat kebaikan. Itu
sebabnya, Ali selalu dicintai oleh umatnya (halaman 22).
Semua kisah keempat khalifah
mengandung nilai-nilai yang menjadi teladan untuk anak-anak. Selain kisah empat
orang Khulafaur Rasyidin, masih ada 21 judul kisah berima Sahabat Rasul
lainnya. Setiap judulnya hanya terdiri dari empat sampai lima bait. Dan dalam
satu bait terdiri dari empat kalimat berima. Namun dengan rangkaian
kalimat-kalimat berima yang cukup pendek, sangat efektif dalam menceritakan
keteladanan Sahabat Rasul.
Tak hanya membuat aktivitas membaca
menjadi lebih menyenangkan, kisah-kisah Sahabat Rasul dalam buku ini dapat
menambah wawasan dan menjadi teladan untuk anak-anak tercinta.
Monday, April 17, 2017
Resensi Buku dimuat di Harian Jateng Pos 16 April 2017: Mengenalkan Islam dengan Asyik dan Menyenangkan
Buku yang bagus untuk panduan orang tua mengenalkan agama Islam pada anak-anak.
Berikut resensinya yang dimuat di Jateng Pos 16 April 2017:
Berikut resensinya yang dimuat di Jateng Pos 16 April 2017:
Mengenalkan Islam dengan Asyik dan Menyenangkan
Judul : New Islam For Kids
Penulis : Irfan Amalee
Penyunting : Dadan Ramadhan, Asih Gandana dan Ridwan Fauzy
Penerbit : Dar! Mizan
Tahun :
Edisi III, Cetakan I, Januari 2017
Tebal : 192 halaman
ISBN :
978-602-420- 162-8
Metode mengenalkan pelajaran agama
islam pada anak-anak yang sampai sekarang masih diterapkan adalah dengan cara
menghafal. Beberapa anak bahkan yang mempunyai kelemahan untuk melakukan proses
hafalan, ikut dipaksa agar mengikuti metode yang sudah umum dilakukan.
Berangkat dari pengalaman itu,
penulis buku Irfan Amalee, menyusun buku New Islam for Kids. Menurutnya, metode
hafalan hanya akan menghasilkan anak yang pandai menghafal saja, namun tidak
serta merta membuat anak enggan berbohong karena selalu merasa diawasi Allah,
misalnya.
Buku ini hadir untuk anak yang ingin
mempelajari islam, bukan hanya sekedar hafalan. Apalagi di masa kanak-kanak,
seorang anak akan belajar melalui apa yang ditangkap oleh inderanya. Namun, di
dalam pelajaran agama justru banyak sekali hal-hal realitas yang tidak dapat
tertangkap indera, mencakup Allah, malaikat dan hari kiamat. Melalui gaya
bertutur mengajak anak-anak memasuki dunia cerita, buku ini dapat menggambarkan
hal-hal yang bersifat konsep, menjadi contoh perilaku dalam keseharian.
Di awal buku ini, penulis mengisahkan
cerita yang mengajak anak-anak untuk ikut masuk ke dalam ruangan yang gelap.
Bagaimana ya, rasanya jika kita tinggal di tempat yang gelap untuk selamanya?
(halaman 12). Dalam gelap, bisa saja terjadi hal-hal yang dapat mencelakakan
diri, seperti kaki terantuk meja atau kepala terbentur dinding. Lalu munculah
tokoh Kak Rama yang membawa lilin ke ruangan itu. Kak Rama bercerita bahwa ibarat
lilin, agama islam adalah penerang untuk kehidupan. Tentu agar tidak terjerumus
pada perbuatan buruk yang dapat mencelakakan diri sendiri dan orang lain
(halaman 13).
Saat menerangkan rukun iman kepada
Allah, tokoh Kak Rama menceritakan tentang keberadaan aliran listrik. Anak-anak tidak bisa melihat listrik
yang mengalir, tapi bisa merasakan bahwa berkat aliran listrik, televisi,
setrika dan alat elektronik lainnya bisa menyala. Begitupun, anak-anak yang
bertanya apakah Allah bisa dilihat. Kak Rama menjawab, bahwa Allah ada dengan
melihat berbagai ciptaan-Nya dan dengan merasakan keagungan-Nya (halaman 26).
Rukun islam yang pertama atau
kalimah syahadat dikupas dalam bentuk cerita yang berjudul Janjiku pada Allah
SWT. Dikisahkan seorang anak yang sudah berjanji pada teman-temannya untuk
tidak datang terlambat seperti kebiasaanya. Namun ternyata ia tidak menepati
janjinya, lagi-lagi terlambat dan membuat teman-temannya merasa dirugikan.
Dalam cerita ini, penulis mengingatkan bahwa kita juga sering berjanji kepada Allah
dan Rasul. Bahkan diucapkan lebih dari lima kali dalam sehari dalam kalimat
syahadat. Syahadat artinya persaksian, pengakuan atau ikrar setia. Dengan
mengucapkan kalimah syahadat, berarti kita sudah berjanji untuk mentaati semua
peraturan yang dibuat oleh Allah dan Rasul dengan cara menjalankan perintah-Nya
(halaman 63-64).
Satu per satu rukun iman dan rukun
islam dikenalkan kepada anak-anak dan dikupas dalam kemasan cerita yang asyik
untuk dibaca. Pada akhirnya contoh-contoh perilaku keseharian itu bisa membuat
anak-anak dengan mudah mencerna hal yang tidak tertangkap indera.
Tak ketinggalan, melalui tokoh Kak
Rama, penulis juga menghadirkan cerita tentang sejarah islam. Dari mulai
munculnya islam, sejarah perjuangan Nabi Muhammad, sampai masa kejayaan islam
dikisahkan dalam cerita yang berjudul Jejak-Jejak Dasyat (halaman 167). Dengan
memahami sejarah islam, anak-anak dapat menyadari bahwa agama Islam membawa
peranan besar dalam perkembangan peradaban manusia. Dari situ akan muncul
kebanggaan dalam diri anak, sebagai bagian dari sejarah Islam.
Subscribe to:
Posts (Atom)













