Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Thursday, January 25, 2018

Resensi Buku dimuat di Harian Kabar Madura 08 Januari 2018: Manumbuhkan Nilai Kasih Sayang Anak Usia Dini

Mencoba membuat resensi buku balita yang ceritanya sederhana hanya terdiri dari 20 halaman... Buku ini jadi buku favorit bungsu saya yang masih balita. Walaupun belum mengerti huruf, dia senang sekali bolak balik lembaran buku dan menceritakan gambar di dalamnya...

Alhamdulillah resensinya dimuat di Harian Kabar Madura, 08 Januari 2018



Tuesday, November 7, 2017

Resensi Buku dimuat di Harian Singgalang 5 november 2017: Kekuatan Cinta untuk Sang Bunda

Buku Aku Sayang Bunda ini, memang sudah lama saya cari dari beberapa tahun yang lalu. Semenjak belajar menulis di kelas merah jambu, mbak Nurhayati Pujiastuti sudah menyebut judul ini. Teman-teman lain pun menyebut buku ini ceritanya direkomendasikan untuk belajar menulis cerita anak. Tapi sayang, bukunya sudah tidak lagi beredar di pasaran.

Beberapa bulan yl, tidak sengaja saya melihat cover buku ini muncul lagi di status FB Penerbit Indiva. Saya coba ajukan permintaan reward dari resensi buku Indiva yang lain. Dan, alhamdulillah... terima kasih kakak Indiva sudah mengirim buku Aku Sayang Bunda dan Zia Anak Hebat karya Kak Linda Satibi, ke rumah saya.

Dan memang tidak salah... Buku ini cocok sekali untuk direkomendasikan.... Berikut resensinya...



Kekuatan Cinta untuk Sang Bunda

 

Judul               :  Aku Sayang Bunda
Penulis             :  Nurhayati Pujiastuti
Penyunting      :  Ririen Djoemadi
Penerbit           :  Penerbit Lintang Indiva
Tahun              :  Cetakan 4 - Desember, 2016
Tebal               :  96 halaman
ISBN               :  978-602-8277-36-5

            Bagi sebagian anak, sosok ibu tiri masih dianggap sebagai sosok yang menyeramkan. Cerita-cerita tentang sosok ibu tiri yang kejam, begitu melekat di benak anak-anak. Padahal tak semua ibu tiri memperlakukan anak-anaknya dengan tidak baik. Salah satunya ibu tiri yang merawat Nayla.
            Awalnya Nayla tak percaya akan cerita Wati, temannya, yang mengatakan kalau bundanya sekarang bukanlah bunda betulan (halaman 7). Nayla yakin, bundanya terlalu baik untuk menjadi seorang ibu tiri. Tapi setelah mencari tahu, Nayla mendapati bahwa ia memang mempunyai bunda lain, selain bunda yang kini tinggal bersama dan merawatnya. Bunda betulan, bunda yang mengandung dan melahirkannya.
            Cerita terus bergulir. Nayla mencoba mencari keberadaan bunda betulannya. Nayla akhirnya mengetahui kalau ternyata bunda betulannya adalah seseorang yang berpenyakit jiwa. Bundanya harus selalu dikurung karena sering mengamuk, berteriak dan melotot menyeramkan. Bahkan bundanya itu menjadi bahan ejekan anak-anak, sehingga membuat Nayla menangis. Dan yang menyedihkan, neneknya bahkan tak mau memberikan pengobatan untuk bundanya. Walaupun takut dan malu, tapi sebagai seorang anak Nayla juga ingin membantu sang bunda. Dengan kemampuan Nayla sebagai seorang anak-anak, ia berusaha untuk membuat sang bunda untuk mendapatkan pengobatan yang layak (halaman 60).
            Tak banyak kita temui buku yang berkisah dengan tema masalah berat yang dihadapi oleh seorang anak, seperti masalah yang dihadapi oleh Nayla. Bagi seorang anak, mengetahui memiliki ibu kandung yang berpenyakit jiwa tentu bukanlah perkara mudah. Namun penulis cerita, Nurhayati Pujiastuti, mampu mengemas kisah yang berat itu menjadi sebuah kisah yang inspiratif untuk anak-anak.
            Novel fiksi anak ini, ceritanya mengalir lincah. Di setiap akhir bab selalu ada bagian cerita yang membuat penasaran untuk membuka bab selanjutnya. Di akhir cerita, pembaca dapat menangkap banyak pesan. Diantaranya, bahwa anggapan umum tentang ibu tiri belumlah tentu benar. Dan pesan yang paling inspiratif adalah, bahwa setiap anak punya kekuatan untuk bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya walau berat sekalipun. Kekuatan itu berasal dari dalam hati berupa rasa kasih sayang.
            Tak heran jika novel anak islami ini menjadi pemenang cerita fiksi anak terbaik IKAPI IBF (Islamic Book Fair) tahun 2012. Novel ini terus dicetak ulang dari tahun pertama penerbitan 2012 sampai sekarang mencapai cetakan ke-empat. Oleh karenanya, novel ini sungguh sayang untuk dilewatkan. Selamat membaca…
             


 

Wednesday, August 16, 2017

Resensi Buku dimuat di Harian Singgalang 13 Agustus 2017: Teladan dari Kisah Masa Kecil Nabi dan Rasul

Buku ini sudah dapat tanda tangan dari penulisnya langsung, Kang Iwok Abqary. Walapun pertama kali dicetak tahun 2010, tapi di tahun ini kembali cetak ulang. Itu pasti karena buku ini banyak manfaatnya untuk anak-anak. Membuka wawasan krucil-krucil di rumah, tentang sejarah masa kecil Nabi dan Rasul.

Berikut, isi resensinya. Dimuat di Harian Singgalang 13 Agustus 2017
Mau tahu lebih detail isi bukunya? Yuk dicari di rak buku anak di toko-toko buku...
Selamat membaca :)


  


Teladan dari Kisah Masa Kecil Nabi dan Rasul

  

Judul               :  Masa Kecil Nabi dan Rasul
Penulis             :  Ridwan Abqary
Penyunting      :  Ridwan Fauzy, Yuni Mulyawati dan Rangga Saputra
Penerbit           :  Dar! Mizan
Tahun              :  Cetakan I,  Maret 2017
Tebal               :  116 halaman
ISBN               :  978-602-420- 100-5

            Setiap orang besar pasti memiliki masa kecil. Tak terkecuali orang-orang pilihan Allah seperti Nabi dan Rasul. Dan sebagai orang-orang terpilih, masa kecil Nabi dan Rasul pun tentu memiliki keunikan tersendiri dibandingkan masa kecil orang-orang biasa.
            Dalam buku Masa kecil Nabi dan Rasul, merangkum 9 kisah yang dialami oleh Nabi dan Rasul semasa kecilnya. Salah satunya adalah kisah masa kecil Nabi Ibrahim A.S yang dilahirkan pada jaman kekejaman Raja Namrud. Nabi Ibrahim lahir dan besar di sebuah goa yang tersembunyi, karena Raja Namrud tak ingin ada seorang bayi laki-laki pun yang terlahir di wilayah kerajaannya. Dalam keadaan bayi yang baru berumur beberapa hari, Ibrahim harus berpisah dari kedua orang tuanya dan tinggal sendiri di dalam goa. Namun, atas kuasa-Nya, Allah memberikan mujikzat pada Nabi Ibrahim melalui air susu yang memancar dari ibu jarinya (halaman 15). Ia tumbuh besar dan selamat dari kekejaman Raja Namrud.
            Saat Nabi Ibrahim mulai beranjak besar, ia mulai bertanya-tanya tentang pekerjaan ayahnya sebagai pembuat berhala. Ia juga heran mengapa berhala buatan ayahnya, kemudian disembah oleh orang-orang yang membelinya. Ia sama sekali tidak menyakini kalau berhala-berhala itu adalah Tuhan seperti yang orang-orang katakan (halaman 23).
            Nabi Ibrahim kecil selalu berpikir bahwa Tuhan itu pasti ada. Ia terus mencari keberadaan Tuhan. Saat melihat bintang, bulan dan matahari, ia sempat mengira kalau itu adalah Tuhan. Namun saat malam berganti siang dan siang berganti malam, benda-beda langit itu pun menghilang dan berganti. Nabi Ibrahim kecil tak suka Tuhan yang menghilang. Ia menyadari kalau benda-benda itu pun bukanlah Tuhan. Pada akhirnya Allah SWT, membukakan hati Ibrahim dan memberi petunjuk agar tidak mempersekutukan Tuhan dengan ciptaan-Nya termasuk bumi dan langit (halaman 26).
            Begitupun dengan masa kecil Nabi Muhammad SAW. Semenjak lahir, beliau tidak pernah disusui oleh ibunya. Beliau disusui dan dirawat oleh perempuan bernama Halimah As-Sa’diyyah. Saat berumur tiga tahun, Muhammad kecil mengalami kejadian yang tidak biasa. Dua orang laki-laki yang tak dikenal membawa Muhammad kecil. Halimah merasa cemas kalau-kalau Muhammad kecil dicelakai orang. Saat mencarinya, Halimah menemukan Muhammad kecil duduk di tengah lapang. Orang-orang di sekitar lapangan menceritakan kalau dua orang yang membawanya itu telah membuka atau membelah dada Muhammad. Untunglah Muhammad kecil masih selamat.
            Tak berapa lama, Halimah akhirnya mengetahui. Atas perintah Allah SWT, malaikat Jibril telah ditugaskan untuk membersihkan dan menyucikan hati Muhammad (halaman 110). Saat membuka dada Muhammad, malaikat Jibril membuang segumpal darah kotor dan mencuci jantungnya dengan air zamzam lalu dikembalikan ke tempat semula.
            Dari kisah-kisah diatas, dapat dilihat bahwa Allah telah mempersiapkan orang-orang yang terpilih untuk menjadi Nabi dan Rasul dari semenjak kecil. Atas kuasa-Nya mereka diberikan bekal, mujikzat bahkan ujian dan cobaan. Semenjak kanak-kanak, mereka sudah ditempa agar di saat dewasa siap untuk menjalankan tugas sebagai utusan Allah untuk menyampaikan wahyu bagi umatnya.
            Tentunya kisah-kisah masa kecil Nabi dan Rasul lainnya juga tak kalah menarik. Seperti masa kecil Nabi Ismail A.S yang akan dikurbankan, Nabi Yusuf A.S yang dijatuhkan ke sumur tua, Nabi Musa A.S yang dihanyutkan di sungai, Nabi Isa A.S yang mampu bicara ketika baru lahir, dan kisah-kisah masa kecil nabi lainnya.
            Dengan membaca kisah-kisah masa kecil Nabi dan Rasul di dalam buku ini, anak-anak dapat mengambil hikmahnya dan menjadikan teladan untuk mereka.          
           
Diresensi oleh Ruri Irawati, Pembaca dan Penulis Cerita Anak  

Monday, July 31, 2017

Resensi Buku dimuat di Kabar Madura 26 Juli 2017: Memetik Pesan dari Anak Rimba

Sebetulnya naskah resensi ini dikirim sudah cukup lama. Hampir dua bulan tak ada kabar penampakannya di koran. Tiba-tiba, hari Minggu lalu dikirimi pesan inbox dari teman-teman komunitas peresensi penampakan dari naskah resensi salah satu buku serial PECI ini.







Memetik Pesan dari Anak Rimba

   

Judul               :  Pesan Rahasia dari Hutan Rimba
Penulis             :  Wahyu Noor S.
Penerbit           :  Penerbit Lintang
Tahun              :  Desember, 2016
Tebal               :  127 halaman
ISBN               :  978-602-6334-12-1

            Pernah mendengar musik alam? Zen baru saja mendengarnya saat ia diajak ayahnya berlibur ke Jambi. Zen mendengar suara para binatang saling sahut menyahut kompak, serasi dan indah. Suara yang tak pernah ia temui saat berada di rumahnya di kota besar.         
            “Jelajahilah hutan sesukamu, pasti kamu akan mendapatkan banyak pelajaran di sana.” Perkataan dari Om Huda itulah yang selalu diingat oleh Zen. Selama mengisi liburannya, Zen memang ingin mencoba bermain di hutan. Tapi tentu saja kedua orangtuanya tak mengizinkan. Tak disangka saat hendak menangkap kelinci, ternyata Zen bersama kedua teman barunya, Ahmad dan Ruli, benar-benar tersesat di dalam hutan!
            Saat tersesat di dalam hutan, Zen, Ahmad dan Ruli menemui banyak hal. Diantaranya adalah bertemu dengan warga Suku Anak Dalam penghuni kedalaman rimba. Zen teringat, mereka adalah anak-anak rimba yang pernah Zen temui sebelumnya di desa tempat ia tinggal berlibur. Anak-anak warga Suku Anak Dalam yang tidak berbaju, membawa tombak dan parang dan mencari makan ke desa.
            Awalnya Zen dan teman-temannya merasa takut pada warga Suku Anak Dalam itu. Tapi ternyata setelah beberapa waktu Zen dan teman-temannya berkumpul bersama warga Suku Anak Dalam itu, Zen merasa bahwa mereka tidaklah begitu menakutkan. Bahkan Zen, Ahmad dan Ruli akhirnya mengetahui kalau keberadaan Suku Anak Dalam itu akan terancam punah apabila hutan tempat tinggal mereka ditebang atau dibakar oleh warga desa dan pemerintah. Saat Zen, Ahmad dan Ruli bisa keluar dari dalam huhtan, mereka membawa pesan dari warga Suku Anak Dalam, yang harus mereka sampaikan pada orang-orang yang tinggal di luar hutan.
            Selain kisah petualangan ketiga anak Zen, Ahmad dan Ruli yang tersesat di dalam hutan, ada satu lagi karakter yang cukup menonjol di dalam cerita. Karakter Ayah Ruli, yang digambarkan mempunyai sikap keras pada Ruli, anaknya, namun akhirnya tersadar saat anaknya menghilang tersesat di dalam hutan. Dari karakter Ayah Ruli, penulis ingin menyelipkan pesan bahwa terkadang kehilangan membuat seseorang menyadari arti keberadaan dari orang-orang terdekat di sekelilingnya.     
            Melalui cerita ini, penulis banyak menyampaikan pengetahuan tentang keberadaan Suku Anak Dalam, tentang cara hidup mereka serta masalah-masalah yang mereka alami. Penulis mengemasnya dalam cerita seru dan ramah untuk anak. Alurnya yang menarik, membuat pembaca seakan ikut terbawa dalam ketegangan memasuki rimba berlantara.  
            Di tengah serbuan teknologi gadget yang kian mudah untuk diakses, buku ini sangat bagus untuk dihadirkan di tengah keluarga terutama untuk anak-anak. Tentunya buku ini dapat mengingatkan mereka, jikalau alam dapat memberikan cerita yang asyik dan seru untuk dijelajahi.

             

Wednesday, July 12, 2017

Resensi Buku dimuat di Kabar Madura 05 Juli 2017: Menyelami Pemikiran Ki Ageng Suryomentaram

Buku ini bacaannya pak misua, yang kebetulan tergeletak di meja kamar. Nggak sengaja ikutan baca, ternyata banyak nilai-nilai sederhana yang bisa diambil dari buku ini.

Berikut cacatan kecilnya, dibuat semacam resesnsi. Coba kirim ke media, alhamdulillah dimuat di Kabar Madura.



Menyelami Pemikiran Ki Ageng Suryomentaram


Judul               :  Ki Ageng Suryomentaram, Sang Plato dari Jawa
Penulis             :  Ratih Sarwiyono
Penerbit           :  Cemerlang Publishing
Tahun              :  Cetakan Pertama 2017
Tebal               :  200 halaman
ISBN               :  978-602-1348-55-0

            Sebagai seorang pangeran dari istana Kraton Yogyakarta, RM. Kudiarmaji yang kemudian diberi gelar Pangeran Suryomentaram, selalu hidup dalam kegelisahan bathin yang luar biasa. Sekalipun ia kaya dan berkuasa, namun itu tidak membuat ia merasa menjadi manusia normal. Sebagaimana Pengeran Sidharta Gautama, ia merasa terkungkung oleh kemegahan dan kemewahan hingga tidak bisa merasakan kehidupan yang sesungguhnya. 
            Untuk menemukan jati dirinya, keluarlah Pangeran Suryomentaram dari kraton dan tinggal di desa Bringin, Salatiga, sebagai petani biasa. Di desa itu, ia lebih bebas berpikir dan merenung. Bahkan saat ia mengayunkan cangkul di ladang, terpikir olehnya akan kemurahan Tuhan yang melimpahkan kesuburan pada manusia. Sehingga tugas dirinya sebagai manusia adalah dapat mengolah tanah subur itu dengan ilmu dan ketekunan hingga menghasilkan bahan makanan yang nikmat bagi dirinya dan sesama manusia lainnya (halaman 12).
            Pemikiran-pemikiran KiAgeng Suryomentaram sungguh berbeda dengan pemikiran tokoh-tokoh budaya lain di masa itu yang lebih percaya akan mitos. Pemikiran filosofisnya rasional jauh dari mistisisme, sebagaimana Plato pemikir kritis dari Yunani abad 3 SM. Seorang ahli sejarah dari Universitas Paris bernama Marcell Boneff bahkan telah mempelajari pemikiran Ki Ageng secara lengkap, kemudian  menulis buku dalam bahasa Perancis, berjudul ‘Ki Ageng  Suryomentaram, Prince et Philoshope Javanais’ (halaman 13).     
            Ki  Ageng Suryomentaram meninggalkan sebuah warisan yang sangat berharga, yaitu kawruh pangawikan pribadi, atau  kawruh jiwa. Sebuah pengetahuan agar manusia dapat melepaskan segala atribut duniawi sehingga dapat menemukan kebahagiaan dan ketentraman yang sejati. Buku ini ditulis untuk menyampaikan tentang ilmu kebahagiaan atau kawruh beja yang dirumuskan oleh Ki  Ageng Suryomentaram yang sempat dicatat oleh murid-muridnya, para aktivis Taman Siswa.
            Menurut Ki Ageng, benih dari ilmu pengetahuan adalah  “Rasa” di dalam jiwa manusia (halaman 27). Untuk mendapatkan kebahagiaan diawali dengan pemahaman tentang pengetahuan diri sebagai manusia yang memiliki “rasa”.  
            Pada dasarnya, manusia itu semuanya sama, mempunyai “rasa” sebentar senang, sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah, demikian seterusnya (halaman 68). “Rasa” itu dialami oleh seluruh manusia dan bersifat abadi sepanjang hidup. Apabila manusia dapat memahami sifat dari “rasa” itu, maka bebaslah ia dari penderitaan iri hati dan sombong dan kemudian bisa masuk surga ketentraman. Artinya dalam segala hal, ia akan bertindak secukupnya, semestinya dan sebenarnya (halaman 82). Keinginan-keinginan manusia yang tidak terlaksana pun, dapat terlepas dari penyesalan dan kekhawatiran.
            Ki Ageng Suryomentaram menyebut kesadaran manusia terbagi menjadi 4 dimensi. Dimensi pertama adalah tukang rekam. Manusia merekam hal-hal di luar diri melalui inderanya dan hal-hal di dalam diri melalui “rasa”. Kesadaran dimensi kedua adalah menganggap rekaman-rekaman itu (kumpulan informasi) sebagai dirinya. Sedangkan dimensi ketiga yaitu menganggap egonya sebagai diri. Dan yang terakhir adalah kesadaran bahwa dirinya bukan sekedar ego, tetapi menjadi Pengawas atau Saksi dari setiap kejadian yang dialaminya (halaman 117-118). Dimensi ke-empat itulah yang membuat derajat manusia bertambah tinggi karena ia akan selalu merasa menjadi saksi atas perbuatan-perbuatannya. Apabila dimensi ke-empat sudah tercapai, maka manusia akan merasakan kedamaian dalam menjalani kehidupannya.    

            Dalam buku ini, penulis berusaha memaparkan pemikiran-pemikiran filosofis sederhana Ki Ageng Suryomentaram melalui contoh-contoh tindakan, sehingga pembaca dapat dengan mudah memahaminya. Bahkan Marcell Boneff pun mengakui, bahwa pemikiran Ki Ageng Suryomentaram sangat penting sebagai pencerahan dalam  membentuk  pribadi yang cerdas dan cendekia, tanpa kehilangan kepribadian timurnya. 

Wednesday, July 5, 2017

Resensi Buku dimuat di Radar Sampit 02 Juli 2017: Menangkap Imajinasi Anak yang Tak Terbatas

Buku KKPK Luks Magic Cookies ini adalah buku cetakan ke sekian kalinya dari pertama cetak tahun 2010. Itu sebabnya di cover buku disebut sebagai Gold Edition.

Saya cukup penasaran, dengan isi buku cerita anak yang dicetak berulang-ulang. Ternyata, setelah membuka buku ini, memang tak heran, mengapa buku KKPK ini menjadi best seller.

Ide-ide cerita yang ada di dalamnya membuat saya tercenung. Imajinasi anak memang ajaib! Saya, sebagai orang dewasa yang senang menulis cerita anak, banyak belajar dari ide-ide cerita di buku ini. Salut untuk kakak-kakak editor Penerbit Mizan, yang sudah menangkap dan memberi wadah untuk ide-ide ajaib para penulis cilik KKPK.

Sedikit ulasan buku ini, dimuat di Radar Sampit 02 Juli 2017






Menangkap Imajinasi Anak yang Tak Terbatas


Judul               :  Magic Cookies
Penulis             :  Muthia Fadhila Khairunnisa (Thia), dkk
Penyunting      :  Ridwan Fauzy dan Yuni Mulyawati
Penerbit           :  Dar! Mizan
Tahun              :  Edisi II, Cetakan I, Maret 2017
Tebal               :  168 halaman
ISBN               :  978-602-420- 166-1

            Tak bisa dipungkiri bahwa imajinasi anak-anak begitu luas dan tak terbatas. Buku serial KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) hadir, menjadi wadah dari imajinasi dan kreatifitas mereka. Penulis cilik yang pertama kali mengusung lahirnya serial KKPK adalah Sri Izzati, yang akhirnya diikuti oleh penulis-penulis cilik lainnya.
            Saat penulis-penulis cilik itu kini beranjak remaja, nama-nama baru bermunculan menghadirkan ide-ide baru yang terus menyemarakkan serial buku KKPK. Istimewanya, penulis-penulis baru itu semula hanya menjadi pembaca buku anak.
            Tentunya serial buku KKPK kini sudah tak asing lagi di tengah anak-anak Indonesia. Cerita-cerita baru serial ini selalu dinantikan kehadirannya di toko buku untuk menjadi teman bacaan sekaligus koleksi di rak buku mereka. Bahkan beberapa judul buku pun mengalami cetak ulang karena terus dicari oleh penggemar ciliknya. Salah satunya adalah buku serial KKPK Luks berjudul Magic Cookies.
            Keistimewaan dari serial KKPK Luks Magic Cookies adalah berisi cerpen-cerpen yang merupakan hasil seleksi dari 71 karya peserta pelatihan penulisan KKPK di Bandung dan Jakarta. 20 cerita yang terseleksi tentu saja merupakan cerita-cerita yang asyik dengan ide menakjubkan. Tak mengherankan apabila buku ini terus menerus dicetak ulang dan berganti edisi cover sampai sekarang.
            Seperti salah satunya adalah cerita tentang seorang anak bernama Alifia Cookies yang suka sekali memakan kue. Tapi sayangnya, ia tak pernah membantu ibunya membuat kue. Kesukanya hanya makan dan makan menghabiskan kue-kue buatan ibunya. Suatu saat, ia memakan kue ajaib dan terdampar di negeri kue (halaman 43).
            Awalnya Alifia merasa senang berada di dunia ajaib negeri kue, dimana kue yang selalu dilahapnya tak pernah habis. Namun lama-lama, ia menjadi bosan, dan ingin kembali ke dunia aslinya. Ia ingin kembali bertemu dengan ibu.
            Ternyata tak semudah itu untuk kembali. Ibu Peri penyuka brownies memberi syarat pada Alifia untuk membuat sebuah rumah cookies. Pekerjaan yang tidak mudah dilakukan seorang diri. Tentu Alifia terpaksa berlelah-lelah untuk membuatnya. Dari situ Alifia sadar, kalau ibunya pasti kelelahan untuk menyiapkan kue-kue yang setiap hari selalu dihabiskannya. (halaman 46).
            Selain ide ceritanya yang luar biasa, cerita ini mengandung pesan sederhana yang dapat dipetik oleh pembacanya. Bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, diperlukan adanya usaha untuk menggapainya.
            Cerita lainnya dengan ide unik adalah kisah tentang doa yang buruk. Bercerita tentang seorang anak laki-laki bernama Adolf yang tidak menyukai teman sekelasnya yang sombong dan jahil. Suatu kali, anak jahil itu mendorong tubuh Adolf sampai kepalanya terbentur pintu loker. Tentu saja Adolf yang merasa kesakitan menjadi marah. Ia mendoakan sesuatu yang buruk pada teman jahilnya itu.
            Namun saat pelajaran agama, Adolf membaca buku agama tentang doa di sebuah paragraf,  Jika kamu mendoakan sesuatu yang baik, Malaikat akan mengaminkan, lalu berkata, “Dan bagimu juga!” Begitu juga sebaliknya (halaman 99). Adolf yang tadi sudah sempat mendoakan sesuatu yang buruk pada temannya, menjadi resah. Adolf tak ingin doanya akan kembali pada dirinya.
            Saat hendak mencari temannya untuk meminta maaf, ternyata doanya terkabul. Sesuatu menabraknya, persis seperti isi doa untuk temannya itu. Rasa marah di hati Adolf membuat ia lupa dan kembali menggerutu, “Awas, ya. Aku doakan kamu jadi katak!” (halaman 100).
Lalu mungkinkan Adolf ikut berubah menjadi katak?
            Cerita itu menunjukkan imajinasi penulis cilik yang patut diapresiasi. Selain itu, pesan yang terselip di dalamnya cukup dalam. Penulis ingin mengajak teman-teman pembacanya agar tidak memelihara dendam di dalam hati.   
            Masih ada 18 cerita asyik lainnya yang sayang untuk dilewatkan. Tentunya, selain menghibur cerita-cerita itu bisa menginspirasi anak-anak Indonesia agar gemar membaca dan lebih semangat untuk berkarya.    




Thursday, June 15, 2017

Resensi Buku Anak Serial Cuaca (Fifa Dila - Tiga Ananda): Mendekatkan Anak pada Sains

Dapat kiriman buku anak dari penulis cerita anak favorit, itu rasanya senang banget. Mbak Fifa Dila, yang karyanya udah sudah sering banget dimuat di Majalah Bobo. Dan sekarang, bisa baca tulisannya dalam bentuk buku berseri.

Buku cerita anak Serial Cuaca ini jelas berbeda. Karena isinya bercerita tentang sains sederhana yang ditujukan untuk anak-anak 5-8 tahun. Ilmu pengetahuan tentang cuaca ini dikemas menarik, sehingga anak-anak nggak bosan membuka dan membuka lagi lembaran buku ini. Ilmunya dapat, anak-anak juga suka... Good job buat penulisnya, Mbak Fifa Dila...

Terima kasih dan sukses buat bukunya ya... 😊







Mendekatkan Sains pada Anak

 
Judul               :  Serial Cerita Cuaca - Hujan
Penulis             :  FiFadila
Penyunting      :  Yenni Saputri
Penerbit           :  Tiga Ananda
Tahun              :  Cetakan I, Maret 2017
Tebal               :  36 halaman
ISBN               :  978-602-366- 265-4

            Cuaca adalah salah satu peristiwa alam yang sangat dekat dengan kita. Kehadirannya memberi dampak yang cukup besar untuk kelangsungan kehidupan di muka bumi. Pada satu sisi, akan membawa berkah dan manfaat yang luas, namun di sisi lain dapat menjadi bencana yang merugikan untuk kehidupan. Mengenalkan tentang cuaca pada anak-anak, akan memberi manfaat yang besar bagi mereka.
            Salah satu fenomena cuaca yang tak asing bagi anak-anak adalah hujan. Hadirnya hujan membawa kegembiraan saat bisa bermain di tengah-tengahnya. Asalkan dalam kondisi badan yang baik dan tidak berlama-lama, bermain dalam hujan tentu sangat mengasyikkan. Namun, selain menikmati hujan, anak-anak perlu mengetahui asal muasal hadirnya hujan. Buku ini hadir untuk membantu anak-anak mengenal dan  mengetahui tentang banyak hal mengenai hujan. Tentunya dengan bahasa yang sederhana, efektif, mudah dipahami dan menyenangkan.   
             Dengan tokoh dan sudut pandang butiran hujan, anak-anak diajak untuk melakukan perjalanan bersama menyusuri siklusnya. Diawali dengan jatuhnya butiran air dari langit yang tertampung di sebuah awan yang besar (halaman 10). Butiran hujan yang jatuh ke permukaan bumi terus berpetualang di dalam tanah, aliran sungai hingga lautan dan akhirnya kembali lagi menjadi sebuah awan yang besar. Selain itu, tokoh butiran hujan juga bercerita tentang manfaatnya yang besar untuk kehidupan di permukaan bumi (halaman 20). Tak ketinggalan, butiran hujan juga memberi pesan akan bahaya yang mungkin bisa terjadi apabila manusia tidak menjaga lingkungannya (halaman 28).
            Dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik dan berwarna-warni, petualangan tokoh si butiran hujan menjadi semakin asyik untuk diikuti. Cerita dikemas untuk dapat dinikmati dan dipahami oleh anak-anak rentang usia 5-8 tahun. Namun tidak menutup kemungkinan, anak-anak diluar rentang umur itu juga dapat menikmati isi buku dan memperkaya wawasan tentang peritiwa alam cuaca khususnya hujan. Asyiknya lagi di dalam buku ini tersedia aktifitas eksperimen sederhana yang bisa dilakukan oleh anak-anak bersama orangtua, terkait dengan pembentukan hujan.
           Buku ini merupakan salah satu judul dari rangkaian seri cerita cuaca yang layak untuk dikoleksi. Terutama untuk menambah wawasan sains pada anak-anak dengan cara yang asyik dan menyenangkan. 

Dimuat di Harian Kabar Madura, 14 Juni 2017

Wednesday, May 24, 2017

Resensi Buku dimuat di Harian Kabar Madura 19 Mei 2017: Keteladanan Sahabat Rasul dalam Cerita Berima

Sebagai penggemar buku-buku Kang Iwok Abqary, senang sekali saat mendapat reward resensi dari Penerbit Mizan, buku karyanya.

Si anak tengah suka sekali bacanya, sambil mencoba-coba membuat kalimat berima... lucu juga...
Dan ternyata memang asyik, membaca cerita berima itu. Kalimat-kalimatnya pendek dan efektif, tapi cerita tetap menarik...
Berikut resensi lengkapnya... :)






Keteladanan Sahabat Rasul dalam Cerita Berima

 
Judul               :  Cerita Berima 25 Sahabat Rasul
Penulis             :  Ridwan Abqary
Penyunting      :  Dadan Ramadhan
Penerbit           :  Dar! Mizan
Tahun              :  Cetakan I, 2017
Tebal               :  108 halaman
ISBN               :  978-602-420- 278-1

            Menanamkan minat baca pada anak, perlu dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Baik penerbit maupun penulis buku anak terus mengupayakan konsep buku yang dapat diterima dan disukai oleh anak. Sementara itu, tugas orangtua dan para pendidiklah yang akhirnya memilih isi buku mana yang cocok dan menyenangkan untuk anak-anaknya.
             Konsep cerita berima adalah salah satu upaya penulis anak membuat cerita yang berbeda dan menyenangkan. Akhiran kalimat yang berbunyi sama, bisa membuat anak tersenyum gembira karena terasa lucu dan unik. Selain itu, dengan kalimat berima, apa yang dibaca oleh anak akan lebih mudah tersimpan dalam memori otaknya.
            Seperti cerita dalam buku ini, penulis ingin menggambarkan para Sahabat Rasul di dalam  kalimat-kalimat yang pendek dan berima. Tak hanya mengenalkan sebatas nama, tapi di dalamnya berisi cerita kisah hidup dan juga karakter Sahabat Rasul yang bisa diteladani oleh anak.  
            Menjadi khalifah pertama setelah Rasulullah wafat. Dipilih umat secara mufakat. Abu Bakar dipercaya memegang amanat. Meneruskan perjuangan Rasulullah yang belum tamat (halaman 10).
            Bait itu adalah bagian dari kisah pembuka buku ini, berjudul Abu Bakar Pahlawan Besar. Sebagai khalifah pertama, dikisahkan bahwa Abu Bakar adalah Sahabat Rasul yang terus bersemangat dan pantang menyerah, menyebarkan dakwah untuk  meneruskan perjuangan Rasulullah.
            Kisah Umar Penyabar menceritakan Umar bin Khatab yang menjadi khalifah kedua. Diceritakan bahwa awalnya Umar bin Khatab adalah orang yang sangat memusuhi umat Islam, bahkan ingin melukai Rasulullah. Namun saat mendengar alunan suara Al-Quran, hati Umar sangat tersentuh. Akhirnya Umar bin Khatab mengucapkan syahadat dan mengemban tugas menyebarkan Islam di muka dunia (halaman 14).
            Khalifah ketiga adalah Ustman bin Affan. Beliau mempunyai sifat dermawan. Dengan hartanya yang melimpah, Ustman selalu bersedekah. Tak ketinggalan, jasa besar Ustman dalam membukukan Al-Quran selalu tercatat dalam sejarah (halaman 18).
            Sebagai khalifah keempat, Ali bin Abu Thalib dikisahkan sebagai pemimpin yang peduli akan umatnya. Selain itu beliau dikenal sebagai orang yang jujur dan selalu berbuat kebaikan. Itu sebabnya, Ali selalu dicintai oleh umatnya (halaman 22).       
            Semua kisah keempat khalifah mengandung nilai-nilai yang menjadi teladan untuk anak-anak. Selain kisah empat orang Khulafaur Rasyidin, masih ada 21 judul kisah berima Sahabat Rasul lainnya. Setiap judulnya hanya terdiri dari empat sampai lima bait. Dan dalam satu bait terdiri dari empat kalimat berima. Namun dengan rangkaian kalimat-kalimat berima yang cukup pendek, sangat efektif dalam menceritakan keteladanan Sahabat Rasul.
            Tak hanya membuat aktivitas membaca menjadi lebih menyenangkan, kisah-kisah Sahabat Rasul dalam buku ini dapat menambah wawasan dan menjadi teladan untuk anak-anak tercinta.
                 

Diresensi oleh Ruri Irawati, Pembaca dan Penulis Cerita Anak  

Monday, April 17, 2017

Resensi Buku dimuat di Harian Jateng Pos 16 April 2017: Mengenalkan Islam dengan Asyik dan Menyenangkan

Buku yang bagus untuk panduan orang tua mengenalkan agama Islam pada anak-anak.

Berikut resensinya yang dimuat di Jateng Pos 16 April 2017:





Mengenalkan Islam dengan Asyik dan Menyenangkan

Judul               :  New Islam For Kids
Penulis             :  Irfan Amalee
Penyunting      :  Dadan Ramadhan, Asih Gandana dan Ridwan Fauzy
Penerbit           :  Dar! Mizan
Tahun              :  Edisi III, Cetakan I, Januari 2017
Tebal               :  192 halaman
ISBN               :  978-602-420- 162-8

            Metode mengenalkan pelajaran agama islam pada anak-anak yang sampai sekarang masih diterapkan adalah dengan cara menghafal. Beberapa anak bahkan yang mempunyai kelemahan untuk melakukan proses hafalan, ikut dipaksa agar mengikuti metode yang sudah umum dilakukan.
            Berangkat dari pengalaman itu, penulis buku Irfan Amalee, menyusun buku New Islam for Kids. Menurutnya, metode hafalan hanya akan menghasilkan anak yang pandai menghafal saja, namun tidak serta merta membuat anak enggan berbohong karena selalu merasa diawasi Allah, misalnya.
            Buku ini hadir untuk anak yang ingin mempelajari islam, bukan hanya sekedar hafalan. Apalagi di masa kanak-kanak, seorang anak akan belajar melalui apa yang ditangkap oleh inderanya. Namun, di dalam pelajaran agama justru banyak sekali hal-hal realitas yang tidak dapat tertangkap indera, mencakup Allah, malaikat dan hari kiamat. Melalui gaya bertutur mengajak anak-anak memasuki dunia cerita, buku ini dapat menggambarkan hal-hal yang bersifat konsep, menjadi contoh perilaku dalam keseharian.
            Di awal buku ini, penulis mengisahkan cerita yang mengajak anak-anak untuk ikut masuk ke dalam ruangan yang gelap. Bagaimana ya, rasanya jika kita tinggal di tempat yang gelap untuk selamanya? (halaman 12). Dalam gelap, bisa saja terjadi hal-hal yang dapat mencelakakan diri, seperti kaki terantuk meja atau kepala terbentur dinding. Lalu munculah tokoh Kak Rama yang membawa lilin ke ruangan itu. Kak Rama bercerita bahwa ibarat lilin, agama islam adalah penerang untuk kehidupan. Tentu agar tidak terjerumus pada perbuatan buruk yang dapat mencelakakan diri sendiri dan orang lain (halaman 13).
            Saat menerangkan rukun iman kepada Allah, tokoh Kak Rama menceritakan tentang keberadaan  aliran listrik. Anak-anak tidak bisa melihat listrik yang mengalir, tapi bisa merasakan bahwa berkat aliran listrik, televisi, setrika dan alat elektronik lainnya bisa menyala. Begitupun, anak-anak yang bertanya apakah Allah bisa dilihat. Kak Rama menjawab, bahwa Allah ada dengan melihat berbagai ciptaan-Nya dan dengan merasakan keagungan-Nya (halaman 26).
            Rukun islam yang pertama atau kalimah syahadat dikupas dalam bentuk cerita yang berjudul Janjiku pada Allah SWT. Dikisahkan seorang anak yang sudah berjanji pada teman-temannya untuk tidak datang terlambat seperti kebiasaanya. Namun ternyata ia tidak menepati janjinya, lagi-lagi terlambat dan membuat teman-temannya merasa dirugikan. Dalam cerita ini, penulis mengingatkan bahwa kita juga sering berjanji kepada Allah dan Rasul. Bahkan diucapkan lebih dari lima kali dalam sehari dalam kalimat syahadat. Syahadat artinya persaksian, pengakuan atau ikrar setia. Dengan mengucapkan kalimah syahadat, berarti kita sudah berjanji untuk mentaati semua peraturan yang dibuat oleh Allah dan Rasul dengan cara menjalankan perintah-Nya (halaman 63-64).    
            Satu per satu rukun iman dan rukun islam dikenalkan kepada anak-anak dan dikupas dalam kemasan cerita yang asyik untuk dibaca. Pada akhirnya contoh-contoh perilaku keseharian itu bisa membuat anak-anak dengan mudah mencerna hal yang tidak tertangkap indera.

            Tak ketinggalan, melalui tokoh Kak Rama, penulis juga menghadirkan cerita tentang sejarah islam. Dari mulai munculnya islam, sejarah perjuangan Nabi Muhammad, sampai masa kejayaan islam dikisahkan dalam cerita yang berjudul Jejak-Jejak Dasyat (halaman 167). Dengan memahami sejarah islam, anak-anak dapat menyadari bahwa agama Islam membawa peranan besar dalam perkembangan peradaban manusia. Dari situ akan muncul kebanggaan dalam diri anak, sebagai bagian dari sejarah Islam.