Showing posts with label Cernak Koran. Show all posts
Showing posts with label Cernak Koran. Show all posts

Friday, August 26, 2016

Nusantara Bertutur Kompas Klasika: Upacara Bendera

Belakangan saya menulis cerita berdasarkan ide yang tiba-tiba melintas begitu saja. Tapi sesekali ingin juga kembali belajar menulis cerita denga tema. Mendekati hari ultah kemerdekaan, saat melihat berita tentang paskibraka, terlintas ide untuk menulis tentang upacara bendera.

Yup, dulu semasa sekolah, bertemu dengan upacara bendera rasanya malaaas sekali untuk mengikutinya. Ide sederhananya diambil dari situ. Hanya saja, yang biasanya si anak mendengar nasehat dari guru-guru tentang makna upacara bendera, tapi cerita saya belokkan, ketika si anak yang malas upacara itu mendapat cerita dari seorang tukang kebun sekolah yang ikut melaksanakan upacara bendera dengan  khidmat.

Alhamdulillah, akhirnya cerita ini dimuat di Kompas Klasika Nusantara Bertutur. Judul yang saya kirim adalah "Pelajaran dari Pak Rahman", dan di edit oleh redaksi menjadi "Upacara Bendera". Memang, jadinya lebih sesuai dengan tema Agustusan.

Silakan mengikuti Upacara Bendera ini :)



Kompas Klasika Nusantara Bertutur
Terbit tanggal 21 Agustus2016


Upacara Bendera
Oleh. Ruri Irawati

            Senin sudah datang. Hari yang sangat tidak disukai oleh Andi. Sebabnya ia harus melaksanakan upacara bendera di sekolahnya, SDN. Cibuluh, Kota Bogor. Andi merasa malas, harus berdiri berpanas-panasan menghadap tiang bendera di tengah lapangan.
Andi selalu berusaha menghindar mengikuti upacara bendera dengan berbagai alasan. Tapi kali ini, ia tidak bisa mengelak.  Pak Irfan, wali kelasnya sudah hafal semua alasan-alasannya.
“Andi, pakai topimu dan langsung ke lapangan upacara!” perintah Pak Irfan.
Dengan terpaksa, Andi menuju barisan teman-teman sekelasnya. Sengaja Andi berdiri di paling belakang barisan. Ia berniat di tengah upacara berlangsung untuk menyelinap ke dalam kelas yang pintunya tak jauh dari tempat ia berdiri.
Saat mengheningkan cipta, semua peserta upacara menunduk dan berdoa dengan khidmat. Bagi Andi itu kesempatan. Ia mulai melangkah mundur menuju pintu kelas. Namun saat langkah ketiga kaki Andi terantuk sepasang kaki. Ternyata di belakangnya ada Pak Rahman yang sedang khidmat mengheningkan cipta. Pak Rahman adalah tukang kebun sekolah yang sudah tua.
Andi memberi kode pada Pak Rahman untuk bergeser memberinya jalan. Namun tak disangka, tiba-tiba Pak Rahman terjatuh pingsan. Tentu saja Andi kaget, begitu pun peserta upacara lainnya.
Upacara dihentikan sejenak. Andi ikut membantu menggotong Pak Rahman ke ruang UKS bersama beberapa guru. Setelah ditangani beberapa guru, Pak Rahman akhirnya sadar. Andi lalu diminta oleh Pak Irfan menemani Pak Rahman beristirahat.
Pak Rahman yang sudah merasa baikan, lalu berusaha bangun. “Bapak mau ikut upacara lagi, Nak.”
Namun ternyata badan Pak Rahman masih lemah. Andi meminta Pak Rahman tetap beristirahat. “Bapak, kan, sakit. Kenapa ikut upacara?”
“Bapak  tidak sakit, hanya kepanasan sedikit, Nak,” jawab Pak Rahman. “Tak sebanding dengan apa yang dilakukan pahlawan-pahlawan kita dulu saat berjuang membela dan mempertahankan tanah air,” lanjut Pak Rahman.
Lantas Pak Rahman bercerita, sewaktu ayahnya kecil tanpa sengaja ia berada di tengah medan pertempuran melawan pasukan sekutu. Untungnya ayah Pak Rahman bisa selamat, namun tidak dengan kakeknya. Itu sebabnya sang ayah terus mengingatkan agar anak cucunya tidak melupakan jasa-jasa kakek dan teman-temannya. Mereka mengorbankan nyawa berperang mempertahankan Indonesia.
Andi terdiam menyimak cerita Pak Rahman. Dalam hatinya ia merasa menyesal, selama ini ia selalu malas-malasan mengikuti upacara bendera. Mulai saat itu, ia berjanji untuk mengikuti upacara bendera dengan khidmat seperti yang dilakukan Pak Rahman.

-TAMAT-

Pesan dari cerita:
Bangsa Indonesia kini sudah merdeka. Kita harus menghargai jasa pahlawan, salah satunya dengan mengikuti upacara bendera dengan khidmat.

Versi audio dapat dibuka  di link Nusantara Bertutur:

http://print.kompas.com/iklan/klasika/nusantarabertutur/arsip/20160821-upacara-bendera.html


  


Wednesday, July 20, 2016

Dongeng Nusantara Bertutur: Pohon Bambu yang Berguna


Yippie... Cerita anak pertama yang mejeng di Kompas Klasika. Seneng banget pastinya... Setelah berkali-kali coba kirim cerita pendek ke Nusantara Bertutur, baru cerita ini yang akhirnya dimuat.

Terinspirasi dari pohon bambu di samping rumah yang ditebang semena-mena. Jadi terpikir ide untuk membuat dongeng tentang si pohon bambu. Dan, Alhamdulillah si  pohon bambu bisa hadir di koran nasional. Terima kasih kakak Nubi... :)


Kompas Klasika, Nusantara Bertutur, 
Terbit 17 Juli 2016


Pohon Bambu yang Berguna
Oleh. Ruri Irawati

                Hari ini Pak Yunus memanen buah pepaya muda dan buah nangka masak dari kebunnya yang cukup luas di desa Petir, Kabupaten Bogor. Kebun itu ditanami pohon nangka, pohon pepaya, pohon kelapa, singkong dan jagung. Di pinggir kebun  tampak beberapa rumpun pohon bambu yang juga sengaja ditanam oleh Pak Yunus.
            “Aku senang sekali jika Pak Yunus memanen buahku. Buah yang masih muda ataupun sudah masak, sama-sama sangat disukai oleh keluarga Pak Yunus. Pasti hari ini Bu Yunus memasak sayur asam yang lezat,” ujar Pohon Pepaya riang.
            “Begitupun aku! Hari ini buahku yang tua dan manis rasanya dinikmati oleh keluarga Pak Yunus,” timpal Pohon Nangka.
            “Aku tahu, semua tanaman di kebun ini adalah tanaman yang berguna untuk Pak Yunus. Itu sebabnya ia menanam kita. Daun singkong itu sering dipetik oleh Bu Yunus dan sebentar lagi singkongnya bisa dipanen. Begitu juga jagung yang dipanen lalu dijual Pak Yunus. Waah, senangnya bisa berguna untuk Pak Yunus dan keluarganya, ya, kata Pohon Pepaya lagi.
            “Eh, aku melihat ada satu tanaman yang ditanam oleh Pak Yunus, tapi tak pernah dirawat ataupun dipanen. Sampai sekarang aku bahkan tak tahu apa gunanya tanaman itu ada di kebun ini,” Pohon Pepaya menunjuk ke arah rerimbunan pohon bambu.
            “Maksudmu Bambu itu? Si Pohon Bambu itu kadang menghalangi kita mendapatkan sinar matahari. Seharusnya Pak Yunus membersihkannya saja dari kebun ini,tanggap Pohon Nangka.
            Tentu saja Pohon Bambu yang mendengarkan pembicaraan itu menjadi sedih. Ia merasa sejak ditanam, sampai tunas-tunasnya besar, Pak Yunus memang tak pernah menengoknya sekalipun. Pohon Bambu merasa dirinya tak berguna.
            Pada sore hari, ternyata hujan turun dengan sangat derasnya disertai angin kencang menyambar-nyambar. Badai angin yang datang tentu saja membuat para pohon tinggi ketakutan. Mereka bisa saja roboh dalam sekejap diterpa angin.
            “Duh, aku takut badanku tumbang!” teriak Pohon Nangka.
            “Iya, aku juga. Badanku kan ringkih,” timpal Pohon Pepaya.
Namun demikian, si Pohon Bambu yang rimbun ternyata berusaha dengan sekuat tenaganya menahan terpaan angin kencang yang datang di kebun. Dengan tubuhnya yang lentur, ia berhasil menyelamatkan pohon-pohon lain di kebun itu. Padahal, banyak pohon besar di dekat kebun Pak Yunus yang tumbang diterpa badai angin.
            Pohon Pepaya dan Pohon Nangka sangat berterima kasih pada Pohon Bambu. Mereka meminta maaf karena telah mengejek Pohon Bambu sebagai tanaman yang tak berguna. Pohon Bambu pun merasa senang. Akhirnya ia tahu kalau ia pun bisa bermanfaat seperti pohon-pohon lainnya.
-TAMAT-

Pesan Moral:

Setiap mahluk hidup diciptakan Tuhan dengan mempunyai kelebihan yang bisa bermanfaat bagi dirinya dan sesamanya. Oleh karena itu, jika kita mempunyai kelebihan, jangan pernah merasa sombong. Mari saling menghargai dan melengkapi dengan sesama

Dongeng versi lengkap dengan audio bisa dilihat di web arsip dongeng Nusantara Bertutur
http://print.kompas.com/iklan/klasika/nusantarabertutur/arsip/20160717-pohon-bambu-yang-berguna.html

Note:
Naskah ini dijadikan bahan penelitian dalam makalah Ekoliterasi dengan Kepedulian Lingkungan dalam sastra anak..
https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/8908/i9.pdf?sequence=1&isAllowed=y



Tuesday, September 29, 2015

Cernak Solopos : Jajanan Istimewa

Ide itu ada di dekat-dekat kita. Kita hanya perlu jeli menangkapnya. Seperti ide cerita ini, adalah saat mamanya menggoreng cireng, tapi anak saya sudah kekenyangan duluan jajan cireng di sekolah. 

Tadinya memang cerita ini berkisah tentang cireng. Tapi saya ganti, saat dikirim ke koran lokal Jawa Tengah menjadi kue putu ayu.

Dan ini penampakan dimuatnya jajanan istimewa di Rubrik Anak Harian Solopos.



Rubrik Anak Harian Solopos
Dimuat 27 September 2015


Jajanan Istimewa
Oleh: Ruri Irawati
                   

            Raya suka sekali jajan. Setiap hari uang jajan yang diberikan Ibu selalu habis. Kadang, kalau kehabisan jajanan di kantin sekolah, uang jajan Raya pasti dipakai untuk jajan di rumah. Jajan di warung atau di tukang jajanan yang lewat depan rumah.
            Sebetulnya makanan yang Ibu buat lumayan enak. Tapi sering kali tidak termakan, karena perut Raya sudah kenyang dulu oleh jajanan. Bahkan kadang Raya sengaja tidak mau makan, supaya bisa jajan.
            Sudah seminggu ini, ada sebuah warung jajanan baru saja buka di dekat rumah Raya. Hampir setiap sore pula, Raya jajan ke warung itu. Ada satu jajanan yang Raya sangat suka.
Sore ini Raya pun tak mau absen untuk membelinya. Dengan mengendap-endap, Raya berusaha keluar rumah tanpa diketahui Ibu.
“Nah… nah… mau kemana, keluar rumah sore-sore begini? Sepertinya mau jajan ya?” tanya Ibu yang melihat Raya menggenggam uang. Yaaah… ketahuan deh, pikir Raya.
“Hehehe… iya, Bu. Jajanan di warung baru itu enak. Raya suka….”
Kan di rumah banyak makanan, Raya, kenapa harus jajan? Lagian kamu dapat uang dari mana, katanya uang jajanmu tadi habis untuk jajan di sekolah?” tanya Ibu curiga.
“Ini uang dari Tante Ina, Bu. Waktu Tante Ina datang ke rumah, kasih uang ke Raya banyak. Sampai sekarang belum habis.”
“Uang itu kan harusnya untuk ditabung, bukan dipakai jajan,” omel Ibu sambil geleng-geleng kepala.
“Iya Bu, nanti kalau Tante Ina kasih uang Raya lagi, Raya tabung deh. Sekarang boleh ya Raya jajan ke warung. Jajanan yang Raya suka, takut habis kalau sudah sore,” bujuk Raya. Tanpa menunggu jawaban, Raya langsung kabur meninggalkan Ibu.
***
            Hmmm… Kue putu ayu itu masih tersisa satu lagi. Kue beraroma manis berwarna hijau dengan hiasan kelapa di atasnya. Rasanya manis, lembut dan enak. Kalau lebih sore sedikit, pasti sudah tidak kebagian, Raya tersenyum senang.
            “Adik ini rumahnya dimana?” tanya Ibu pemilik warung sambil menerima uang yang diberikan oleh Raya. Raya tahu Ibu itu penghuni baru di komplek perumahannya. “Dekat dengan rumah Bu Retno, yang di ujung gang itu?” lanjut Ibu warung bertanya. Raya membuka plastik pembungkus kue. Ia memang selalu memakan jajanannya di tempat. Kalau dibawa pulang ke rumah, pasti Ibu marah.
            “Bu Retno itu, ibu saya, Bu,” jawab Raya sambil memasukkan kue beraroma pandan itu ke mulutnya.
            “Lho… anaknya Bu Retno ya! Kalau begitu, Ibu sekalian titip saja. Ini uang penjualan kue titipan Ibumu selama seminggu. Tolong berikan ke Ibumu ya… Oh iya, Adik namanya siapa?” Ibu pemilik warung menyerahkan uang yang ditaruh di atas piring tempat kue yang baru saja habis dibeli oleh Raya.
            “Nggg… Raya, Bu,” jawab Raya terbengong-bengong.
            “Tiap hari selalu habis terjual, memang enak kue putu ayu buatan Ibumu,” katanya sambil tersenyum.
Ditariknya kue yang sudah hampir berada di mulutnya, sambil menerima titipan untuk ibu. Tak jadi Raya mengunyah kue yang biasanya ia habiskan di warung itu.
***
            “Memang kapan Ibu bikin kue putu ayu di rumah, kok Raya nggak pernah tahu?” tanya Raya manyun.
            “Setiap hari. Raya, kan, lebih suka jajan, jadi nggak tau deh kalau Ibu bikin kue enak. Karena Raya nggak suka makanan yang ada di rumah, jadi Ibu jual saja,” goda Ibu. “Memang enak ya, jajanan buatan Ibu? Itu namanya jajanan istimewa,” lanjut Ibu masih tersenyum.
            “Kalau tahu buatan Ibu, Raya, kan, nggak perlu jajan ke warung,” sahut Raya.
            “Sekarang sudah tahu, kan?” tanya Ibu masih menggoda.
“Iya deh… Besok-besok, Raya nggak jajan lagi ke warung, supaya perut Raya cukup untuk makanan di rumah yang Ibu buat.” Raya menyadari kalau kebiasaan jajannya membuat ia tak tahu apa yang dimasak ibunya. “Raya jajannya ke Ibu saja, ya. Ibu buat kue yang enak-enak…” lanjut Raya senang.
“Boleh, Raya. Gratis kok untuk Raya,” jawab Ibu tersenyum.
 “Aaah... kalau gitu, uang jajannya, Raya kumpulkan saja di celengan ayam yang kosong itu,” cetus Raya mendapatkan ide. “Sudah lama Raya jarang mengisinya, Bu,” lanjut Raya dengan suara pelan dan sedikit malu.
“Setuju...” Ibu mengangkat kedua jempolnya. “Itu, masih banyak kue putu ayu, jajanan kesukaanmu di dapur,” lanjut Ibu disambut dengan seruan girang Raya.
 “Asyik…asyik… Nyam nyam nyam enaaak….”   
-o0o-

Monday, August 3, 2015

Cernak di Solopos: Selimut Tedy Bear

Ini cerita yang saya tulis tapi kurang begitu sreg di hati. Konfliknya kurang kuat dan alur ceritanya, "cumi" aka cuma mimpi. Setelah dapat pelajaran dikelas mas baim, memang sebaiknya kita menghindari menulis cerita dengan alur cuma mimpi.

Tapi cerita sudah kadung dikirim, dan dimuat di Solopos. Paling tidak artinya sudah bisa menghibur pembaca rubrik anak di daerah Solo dan Jogjakarta. 

Untuk saya sendiri, tulisan ini bisa untuk bahan untuk belajar. Toh dalam menulis pun  kita terus berproses... Tetap belajar dari karya-karya  yang sudah kita hasilkan... 



Dimuat 02 Agustus 2015

Selimut Tedy Bear
Oleh: Ruri Irawati


            “Jangan dicuci, Bu!” teriak Wawa, sambil menyambar selimutnya dari tangan Ibu. Pagi itu Wawa siap berangkat sekolah. Sebelum sempat melipat selimutnya, rupanya Ibu sudah siap menaruhnya ke wadah cucian kotor.
            “Tapi selimutmu sudah bau, Wawa. Sudah harus dicuci.”
            “Iya, Bu. Maya nggak tahan baunya! Kenapa sih, Wa, selimut bau dipelihara?” gerutu Maya, kakak Wawa.
            “Wawa suka baunya. Kalau dicuci, nanti Wawa nggak bisa tidur, Bu”
            “Kalau nggak dicuci, Kak Maya yang susah tidur, Wa… nggak tahan baunya!” balas Maya, masih manyun. Tak mau berdebat lama, Wawa langsung masuk ke kamarnya bersama selimutnya. Dimasukkannya ke lemari baju, dan klik… terkunci! Wawa meringis puas… sampai nanti pulang sekolah, tak ada yang bisa mengganggu selimutku, karena kuncinya akan kubawa ke sekolah, seru Wawa dalam hati. Ibu memandang dari luar kamar sambil menggelengkan kepalanya.
***
            Selimut Wawa memang spesial untuknya. Selimut bermotif Tedy Bear itu sudah menemani Wawa sejak setahun yang lalu. Suatu kali, Wawa pernah demam tinggi, ia menggigil kedinginan. Tapi selimut itu menemani Wawa sepanjang malam, hingga demamnya turun. Saat demam itu, Wawa merasa berada di padang salju dan hanya di temani oleh Tedy Bear yang selalu memeluknya untuk melawan rasa dinginnya. Sejak saat itu setiap Wawa beranjak tidur, tak pernah ia melepaskan selimut kesayangannya.
***
            Sepulang sekolah, seusai makan dan sholat dhuhur, dibukanya lemari yang Wawa kunci saat berangkat sekolah tadi. Lega rasanya melihat selimutnya masih terlipat rapi di pojok lemari.
            “Bu, Wawa tidur siang dulu ya. Tadi di sekolah capek, Bu, habis pelajaran olahraga,” teriak Wawa sambil menyalakan kipas angin.
            “Sudah sholat belum, Nak?” jawab Ibu dari dapur yang masih sibuk mengerjakan pesanan ketering.
            “Sudah, Bu.” Wawa menghempaskan badannya ke kasur. Ditariknya selimut kesayangannya menutupi tubuhnya. Hmm… nyaman…
***
            “Wawa…” Wawa menengok ke arah suara yang memanggil namanya. Ternyata suara itu datang dari seekor beruang yang tampak tak asing di mata Wawa. Wajah Wawa merekah senang.
            “Tedy Bear! Senangnya bisa bertemu lagi!” seru Wawa sambil memeluk beruang itu.
            “Ya, akupun begitu. Aku sedang ingin bermain denganmu, Wawa. Ayo, kita main ke danau, di sana banyak ikannya.”
            “Ayo Tedy Bear, sepertinya asyik!” seru Wawa girang. Wawapun bergandengan dengan Tedy Bear berjalan menuju danau dari bangku taman tempat Wawa menikmati semilir angin sepoi-sepoi.
            Setibanya di danau, air danau terlihat begitu jernih. Wawa bersorak girang melihat ikan-ikan yang besar dan banyak di dalam danau yang tampak dangkal itu.
            “Ayo Tedy Bear, tangkap ikan-ikan itu!” seru Wawa loncat-loncat kegirangan. Tedy Bear segera melangkahkan kakinya ke dalam danau dan meraup ikan sebanyak-banyaknya. Wawa memekik senang. Lalu, Tedy Bear berjalan keluar danau dan mendekati Wawa yang masih asyik duduk di pinggir danau. Ikan-ikan yang sudah diraupnya dan diserahkan ke Wawa sambil mengajak Wawa turun ke danau. Tapi Wawa tak mau menerima ikan itu, bau amis yang tertangkap hidungnya membuat pusing kepala Wawa.
            “Aku nggak mau pegang ikan itu… bau!” teriak Wawa menutup hidung sambil berlari menjauh, “Tedy Bear, kaupun baunya sama dengan ikan-ikan itu, bau amis,” lanjut Wawa. Tedy Bear tertawa lebar.
            “Memang Wawa tak suka bau amis ini? Kalau begitu aku akan berhenti bermain dan membersihkan bau amis ini. Supaya Wawa mau main denganku lagi,” jawab Tedy Bear.
            “Iya Tedy Bear, kau lepaskanlah dulu ikan-ikan itu kembali ke danau. Lalu kau berendam saja di danau sebelah sana supaya baumu hilang. Aku akan menunggumu,” seru Wawa sambil menunjuk sebelah danau yang tak banyak ikannya. Tedy Bear mengangguk. Tapi sayang, Wawa tak bisa menunggu lama karena ia harus terbangun dari tidurnya.
            Wawa mengucek matanya. Rasanya ia masih berada di alam mimpi bersama Tedy Bear. Bau amis Tedy Bear dan ikan-ikan itu masih tercium dari selimutnya. Segera ia beranjak dari tempat tidur sambil membawa selimut kesayangannya itu.
            “Sudah bangun, Nak? Eh, mau dibawa kemana selimutnya, Wa? Mau diumpetin lagi ya?” tanya Ibu bercanda.
            “Mau Wawa cuci, Bu. Ternyata bau nggak enak itu bikin pusing,” jawab Wawa malu. Ibu tersenyum.
Rupanya Wawa tidak tahu kalau Ibu sempat menengok dan mengembalikan selimut Wawa yang jatuh ketika Wawa tidur siang. Tangan Ibu masih tertempel bau ikan saat memasak di dapur. Dan bau amisnya, menempel ke selimut Wawa.
            “Memang, barusan mimpi apa sih?” goda Ibu. 

Wednesday, May 6, 2015

Cernak di Koran Berani: Misteri Hilangnya Tikus Nakal

Saya  paling suka cerita ini,terutama bagian openingnya. Begitu khas anak-anak.  Cerita ini  ditulis tugas kelas  MJ tema tumbuhan obat. Naskah cerita teman-teman dikelas dengan tema ini, kebanyakan  sudah tayang  di Majalah Bobo.  Saya  sendiri mencoba peruntungan  naskah ini ke Koran Berani. Koran anak  yang bisa  didapatkan hanya dengan berlangganan.

Sayangnya,saat dimuat bukti terbit  tak kunjung datang. Untungnya, perpustakaan di sekolah anak-anak saya berlangganan  Koran Berani. 

Alhamdulillah  karya  sudah dimuat dan dapat foto penampakannya.


Dimuat : 27 April 2015

Misteri Hilangnya Tikus Nakal
Oleh: Ruri Irawati

“Operasi darurat 1 2 3… Operasi darurat 1 2 3…”
“Sttt … Jangan berisik Elo! Kalau mau ikut operasi pengejaran tikus, nggak boleh ramai suaranya. Dianya udah kabur duluan!” kata Edo sewot.
“Bund… tuh…itu disitu Bund! Sini sapunya… Biar Elo aja yang ngejar!” teriaknya heboh.
“Yaaah… kabur dia! Tuh kan, Elo sih berisik.. Susah lagi deh ditangkapnya. Padahal tadi dia sudah terperangkap!”
“Ya sudah… Nggak usah dikejar. Besok kita coba tangkap lagi kalau tikus itu kembali ke rumah kita,” kata Bunda menengahi.
***
Belakangan ini Bunda terlihat kesal sekali. Semenjak Ayah membuat kandang burung di halaman rumah, segerombolan tikus-tikus nakal menyerang rumah si kembar Edo dan Elo. Seisi rumah jadi terganggu, tidak nyaman rasanya melihat tikus berkeliaran di halaman rumah. 
“Bunda, tikus-tikus yang berkeliaran di halaman bikin rumah kita bau… mereka susah sekali diusir, Bund...” kata Elo gemas.
“Iya, Bunda juga pusing! Pakai racun tikus, bunda nggak tahan bau tikus mati. Coba lem tikus, bunda nggak tega lihat tikus yang nempel di lem-nya. Pakai perangkap, wah… ternyata mereka lebih cerdik! Bunda jadi pusing,” Bunda ganti mengomel.
“Terpaksa deh kita buat operasi pengejaran tikus setiap hari,” lanjut Bunda. 
“Kalau itu serahkan ke kita, Bund. Tikus nakal itu bakal kita kejar sampai kena! Ya kan, Lo?” jawab Edo semangat.
***
Hari ini, Pak Wawan, jemputan ojek Edo dan Elo cuti menjemput mereka pulang sekolah. Terpaksa Elo dan Edo memutuskan untuk berjalan kaki pulang ke rumah
“Aduh, panas sekali. Aku haus… duduk dulu yuk Do, neduh di bawah pohon  itu,” kata Elo di jalan komplek dekat rumahnya. 
“Yaaah… Elo, baru jalan segitu saja sudah minta istirahat.. Eh, ini buah apa sih hijau-hijau begini? Bisa dimakan nggak nih?” tanya Edo sambil jongkok untuk mengambil buah yang jatuh dari pohon tempat mereka berteduh.
“Jangan Edo! Jangan di ambil… Itu buah beracun, kata Bunda!” Segera Edo menarik tangannya yang sudah hampir memegang buah itu.
“Ih… untung belum kupengang! Memangnya itu buah apa sih?” 
“Nggak tahu! Pokoknya jangan dipegang, Bunda pernah bilang getahnya bisa bikin gatal. Kalau di tendang sih, boleh… kita kan pakai sepatu. Ayo kita main bola pakai buah ini, kita gocek sampai rumah kita. Gawangnya pagar rumah ya… Yang duluan gol, itu yang menang,” ajak Elo yang sudah hilang rasa hausnya. 
“Siapa takut…” sahut Edo langsung menendang buah yang lumayan keras itu. 
“Ah… dasar curang!” Segera Elo menendang satu buah lagi. Merekapun pulang sekolah dengan bersenang-senang.
***
“Anak-anak… kalian perhatikan nggak… kayaknya empat hari belakangan ini, rumah kita bebas dari suara tikus,” kata Bunda malam itu selepas sholat Isya.
“Iya Bund, padahal tadi sore sudah Edo siapkan sapu buat operasi pengejaran tikus lagi. Eh, ditunggu-tunggu, nggak nongol mereka. Sudah pada bosan kali ke rumah kita, Bund.”
“Kalau diingat-ingat sejak Pak Wawan libur ngejemput kita ya, Do, gerombolan tikusnya hilang. Jangan-jangan ada hubungannya. Hmm... Mungkin, Pak Wawan libur ngojek untuk jadi pemburu tikus?” kata Elo dengan kesimpulannya yang asal bunyi. Bunda dan Edo tertawa.
***
Hari ini Pak Wawan SMS, katanya sudah bisa antar jemput si kembar lagi. Pagi-pagi sekali Pak Wawan sudah muncul di depan halaman rumah Edo dan Elo dengan wajah yang ceria. 
“Pak Wawan kemana saja, liburnya kok lama?” tanya Bunda.
“Saya libur ngojek Bu, istri melahirkan… Alhamdulillah, kemarin sudah pulang dari Rumah Sakit,” jawab Pak Wawan dengan tawa lebar di wajahnya.
“Ohh… selamat ya Pak Wawan…,” kata Bunda.
“Terimakasih Bu… Wah, Ibu ngumpulkan buah bintaro ya, memang disini banyak tikus juga?” tanya Pak Wawan sambil menunjuk buah-buah bintaro yang tergeletak di halaman rumah.
“Itu mainan Elo dan Edo, Pak, bola-bola kami sepulang sekolah,” sahut Elo.
“Memang apa hubungannya sama tikus, Pak Wawan?” tanya Edo
“Wah, buah itu buah penolak tikus, Do. Rumah Pak Wawan sudah nggak pernah didatangi tikus semenjak Pak Wawan taruh buah-buah itu. Bau racunnya bikin tikus pusing.” 
Mendengar cerita Pak Wawan, Elo, Edo dan Bunda saling berpandangan. “Oh… pantas saja…,“ seru mereka serempak sambil tertawa.
-o0o-


Tuesday, April 21, 2015

Cernak Radar Bojonegoro: Pantai Rasa Bali

Cerita ini adalah tugas kelas MJ  dengan tema deskripsi tempat. Saat itu, foto sampul FB saya adalah  Pantai Balekambang. Langsung saja tempat itu jadi ide cerita saya.

Saya kirimkan cerita ini  Harian Radar Bojonegoro. Dimuat tak lama  setelah kirim. Informasi  dan foto  penampakan  didapat dari grup  FB sastraminggu. Dan ternyata,  setelah sebulan terbit, sampailah ke  rumah kiriman koran bukti terbit plus hadiah souveninya.

Terima kasih Koran Radar Bojonegoro...


Dimuat 19 April 2015

Pantai Rasa Bali
Oleh: Ruri Irawati


            Aku memandangi foto di facebook yang baru saja di posting oleh Diena. Foto di tepi pantai dengan pemandangan laut lepas yang disampingnya terdapat sebuah karang besar dengan sebuah pura di puncaknya. Indah sekali foto itu.
            Tiba-tiba chatbox menyala…
            “Hai Ren… kamu lagi dimana? Nggak liburan? Aku lagi di Tanah Lot Bali, udah liat kan hasil fotoku?  Kasih komen dong,” tulis Diena
“Iya, aku udah liat Dien… Bagus banget… Aku belum tahu mau liburan kemana, nanti aku tanya deh sama Ibu. Selamat menikmati liburannya ya, Dien”  balasku.
***
            “Bu, Rena ingin deh pergi ke Bali. Kalau lihat di gambar-gambar, Bali itu indah sekali Bu… Danaunya aja bagus, apalagi pantainya,” kataku pelan. “Diena sekarang lagi liburan di Bali, Bu, dia posting foto di pantai Tanah Lot, baguuus banget. Rena jadi iri,” lanjutku lagi.
            “Kalau liburan ke Bali, kita nabung dulu ya Ren. Liburan sekolah ini, Ayah kemarin merencanakan pulang ke Malang, ke rumah mbah putri,” jawab Ibu.
            “Ngg… liburan tahun lalu kan ke rumah mbah juga. Kapan liburan kita bisa lihat pantai di Bali? Orang luar negri aja liburannya ke Bali, masa’ kita orang Indonesia nggak pernah sampai ke Bali sih, Bu…” kataku mulai cemberut.
            “Sabar ya sayang… kalau uangnya sudah terkumpul, pasti kita nanti bisa liburan ke pantai Bali,” jawab Ibu berusaha menenangkan.
***
            Sepanjang perjalanan kereta Jakarta-Malang, hatiku dipenuhi rasa kecewa. Ayah dan Ibu tidak pernah mengerti keinginanku, gerutuku kesal.
            “Duh… anak Ayah cemberut aja sepanjang jalan. Sebetulnya Ayah mau kasih Rena kejutan nanti di Malang, tapi… karena Rena cemberut terus, Ayah kasih tahu sekarang aja ya kejutannya…,” kata Ayah setengah bercanda. Aku menengok ke arah Ayah yang duduk di samping kiriku. Penasaran juga.
            “Apa, Yah? Habis dari Malang, kita lanjut ke Bali ya?” kataku menebak.
            “Hehehe… bukan Ren. Tapi di Malang nanti kita bisa pergi ke pantai. Tempat Ayah rekreasi waktu muda dulu sama teman-teman Ayah.”
            “Ughh… Ayah bohong… di Malang mana ada pantai?” kataku kembali cemberut.
            “Sudah… percaya deh sama Ayah.”
***
            Ah… kesampaian juga aku menghirup aroma laut yang segar ini, sesaat setelah aku turun dari kendaraan yang membawaku dan keluargaku ke pantai ini. Hari ini pantai tidak begitu ramai. Hanya beberapa orang saja yang nampak asyik bermain di pinggir pantai. Tiba-tiba, mataku terpaku saat melihat sebuah karang besar tak jauh dari bibir pantai yang terdapat bangunan pura diatasnya. Rasanya seperti pernah melihatnya baru-baru ini.
            “Ibu, kenapa pantai ini mirip sekali dengan foto tempat Diena berlibur? Pantainya mirip di Bali, Bu…” aku berseru masih terheran-heran. “Padahal kan ini di…. di mana Yah?” tanyaku memastikan.
            “Di Malang, Rena… Malang Selatan… Namanya Pantai Balekambang,” jawab Ayah sambil tersenyum.
            “Iya… di Malang… Bedanya, di sini ada jembatannya menuju pura di atas karang itu. Nanti kita jalan ke pura ya Bu… Sekarang, aku sudah nggak sabar ingin mandi air laut…” kataku sambil berlari menuju bibir pantai.
            “Renaa… kalau mau main air laut, berenang di bawah karang besar itu. Disitu tidak begitu dalam, dan ombaknya terhalang karang. Aman untuk berenang. Di samping karang sebelah sana juga ada kolam air tawarnya, bisa dipakai mandi setelah dari laut,” teriak Ayah.
            “Iya Ayaah…,” aku berteriak dan menyambut ombak kecil yang datang menghampiriku. Ah… senangnya bisa menikmati pantai yang indah ini walaupun tak harus pergi ke Bali.
***
            “Ren, liburan kemarin kamu pergi kemana?” tanya Diena yang datang menghampiri tempat dudukku. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Tampak teman-teman yang lainpun asyik bercerita tentang liburannya masing-masing.
            “Ke rumah mbah putri di Malang, dan aku berwisata ke pantai ini ,” jawabku sambil menunjukkan foto yang kubawa.          
“Lho… Ini kan  Pantai Tanah Lot. Ini di Bali Ren, bukan di Malang,” kata Diena sambil memegang foto yang kuberikan.
            “Bukan lah… lihat lagi deh… Karang dan Pura nya memang mirip. Tapi lihat jembatannya. Memang di Tanah Lot ada jembatannya?”
            “Eh iya… Ini bukan Tanah Lot! Jadi ini di Malang?” tanya Diena memastikan.
            “Iya, Diena,” kataku sekali lagi meyakinkan. “Ayahku bilang, pantai di Indonesia itu masih banyak yang belum dikenal untuk obyek wisata. Padahal pantai-pantai itu bagus sekali. Salah satunya pantai ini, Dien,” jelasku. Diena manggut-manggut mengerti.
            “Wah, musti dicoba nih liburan kesini. Tahun depan kalau aku pergi ke rumah Budeku di Malang, aku ajak Mama Papa deh kesini. Pantai Tanah Lot di Pulau Jawa!” katanya sambil tertawa.

-o0o-

Thursday, February 12, 2015

Cerita Anak Padang Ekspress

Alhamdulillah...  Ini  cernak pertama yang menembus media cetak. Hasil dari menulis di kelas. Sengaja memang nggak  dikirim ke Majalah Bobo. Dalam cerita ini tokohnya  masih anak  pra sekolah, sedangkan  Bobo kebanyakan memuat cerita tentang anak-anak SD.

Walaupun korannya nun jauh di Padang, thanks to Uni Novia yang sudah kirim-kirim  penampakannya.



Rubrik Ceria  Harian Padang Ekspress
Dimuat  8 Februari 2015


Berani Tidur Sendiri
“Lala kenapa, kok melamun? Belum bisa tidur ya? Masih mikirin apa sih, Lala kok keliatan serius banget sudah malam begini?” tanya Mama agak khawatir.
“Emm… Ma, kalau adik sudah lahir, Lala masih boleh tidur sama Mama nggak di kamar Mama?” tanya Lala dengan wajah gundah. Tangannya mengelus perut Mama yang sudah terlihat besar sekali.
“Emm… Bagusnya Lala sudah berani tidur sendiri di kamar Lala. Nanti kan kalau adik bayi sudah lahir, setiap malam bisa nangis terus. Tidur Lala pasti terganggu.”
“Tapi Ma, Lala takut tidur sendiri. Lala takut ada monster gigi tajam datang ke kamar Lala,” sahut Lala sambil bergidik.
“Nggak kok, nggak ada itu monster gigi tajam. Itu hanya ada di pikiran Lala. Kalau Lala takut, setiap malam mau tidur Lala berdoa dulu.”
“Lala sudah berdoa Ma, tapi tetap takut.” Lala memeluk mamanya. Setelah merasa aman dan nyaman, Lalapun terlelap.
***
            Belakangan ini Lala merasa tidak tenang, apalagi melihat perut mama yang semakin membesar. Itu tandanya adik bayi akan segera lahir. Mamanya sudah berpesan, kalau adik sudah lahir, Lala harus berani tidur di kamar Lala sendiri. Sudah dari Lala mulai masuk TK, kamar itu disiapkan untuk Lala. Tapi setiap Lala mencoba tidur di kamar Lala, bayangan monster gigi tajam selalu datang menghantui Lala. Tia, teman sekelas Lala di TK pernah bilang, kalau monster gigi tajam itu sukanya mendatangi anak yang tidur sendiri. Karena itulah Lala takut sekali kalau disuruh tidur di kamarnya sendiri.
            “Ma, tadi malam Lala mimpi seram deh Ma… tapi seru…”
            “Oh ya?” Mama menengok ke arah Lala sambil menyiapkan bekal sekolah Lala. “Mimpi seramnya apa, mimpi serunya apa?” lanjut Mama.
            “Lala mimpi dikejar monster gigi tajam Ma…”
            “Ketangkap?”
            “Nggak, pas monsternya sudah dekat Lala, Lala lari lewat jembatan gantung yang tinggi, dibawahnya jurang dalam banget Ma. Tadinya Lala takut lihat jurang, tapi daripada ketangkap monster Lala terpaksa lari lewat jembatan itu.”
            “Terus?”
            “Terus Lala sampai deh nyebrang jembatannya, Lala tengok ke belakang monsternya masih ngejar lewat jembatan. Tapi jembatannya nggak kuat Ma, monsternya besar. Jembatannya roboh, terus monsternya jatuh deh ke jurang. Seru Ma… takut tapi seru!” Mama mendengarkan cerita Lala sambil tersenyum. Hmmm… ada ide, pikir mama.
            “Iya, seru mimpinya La. Tahu nggak La, sebenarnya orang bermimpi itu kadang ada artinya lho,”  kata mama memancing. Mata Lala membesar.
“Masa’ sih ma? Berarti mimpi Lala ada artinya dong? Mama tahu nggak artinya mimpi Lala?” tanya Lala bertubi-tubi. Penasaran.
“Emmm… Mama pikir dulu ya,” sahut mama sambil mengetukkan telunjuk dibawah bibirnya. “Sepertinya artinya begini, Lala sudah bisa mengalahkan ketakutan Lala sama monster dan jembatan tinggi. Jadi, Lala sudah nggak takut lagi tidur di kamar Lala sendiri, karena Lala sudah menang lawan monster.”
“Begitu ya Ma… Monsternya sudah kalah lawan Lala. Kalau gitu nanti malam Lala mau coba tidur sendiri Ma.”
“Pintar anak mama… Ya sudah, sekarang ayo berangkat sekolah, nanti Lala terlambat.”
***
            Malam ini Lala mencoba tidur di kamarnya. Matanya sempat terlelap ketika Mama masih menemaninya. Selepas, mama menutup pintu saat keluar dari kamar, Lala terbangun. Pikiran Lala bercampur aduk, antara takut, waspada dan ingin pindah ke kamar mama. Tapi hatinya akhirnya memutuskan untuk tetap tidur di kamarnya. Sambil memeluk gulingnya, Lala terus mengulang “monsternya sudah kalah… monsternya sudah kalah... monsternya sudah...” dan Lalapun tertidur sampai keesokan paginya.
***
            “Ma, tadi di sekolah bu guru tanya di kelas, siapa yang sudah berani tidur sendiri? Lala angkat tangan dong Ma,” seru Lala dengan riang sepulang sekolah.
            “Hebat! Terus ada teman Lala yang masih tidur sama mamanya?”
            “Ada Ma… banyak! Tia masih bobo sama bundanya Ma. Tia masih takut sama monster gigi tajam.”
            “Memang Lala sudah nggak takut lagi?”
            “Nggak Ma, monsternya sudah kalah kan. Mungkin Tia harus mimpi dulu ketemu monsternya, terus ngelawan terus bisa ngalahin deh. Jadi nggak akan takut lagi seperti Lala hehehe…”
            “Anak mama memang berani, hebat!” seru Mama sambil memeluk Lala.

-o0o-