Showing posts with label Cernak. Show all posts
Showing posts with label Cernak. Show all posts

Sunday, August 21, 2016

Cernak Majalah Bobo Edisi 18 th.2016: Galak Gampil

Tulisan ini termasuk cerita favorit yang saya tulis. Ideya muncul saat berlebaran di rumah Mbah. Anak-anak sengaja memisahkan diri untuk mengumpulkan Galak Gampil sebanyak-banyaknya.

Hahaha... biarkanlah anak-anak menikmati momen lebaran. Idenya jangan dilewatkan untuk dijadikan cerita anak.








Majalah Bobo Edisi 18 Th.2016
Terbit 4-11 Agustus 2016






Note:
Naskah ini juga dipakai untuk analisis pendidikan karakter anak tentang kepedulian sosial. 
http://pbsi.uad.ac.id/wp-content/uploads/Prosiding-Semnas.pdf


Sunday, August 7, 2016

Cernak Majalah Bobo Edisi 16 th. 2016: Teman Terbaik

Tulisan dari tugas kelas Kurcaci Pos. Cernak rasa Majalah Girls. Waktu itu, DL tinggal beberapa  jam lagi, sebelum mas Baim pergi jumataan.

Ide masih sepenggal. Dipaksa nulis. Ending cerita ditulis pakai HP di angkot menuju sekolah anak untuk POG. Sampai di depan gerbang sekolah, jadilah cerita Teman Terbaik. Send to pak guru
*Efek  DL  memang kereen...

Naskah ini sudah sempat mengantri lama di email Majalah Girls. Belum sempat ditengok editor, majalahnya kadung ditutup. Maka, terbanglah naskah ini ke email redaksi Bobo di awal bulan 2016. Dan...  Alhamdulillah dimuat  ^.^



Ilustrator: Agus




 Majalah Bobo Edisi 16 tahun 2016
Terbit 28 Juli 2016





Saturday, July 30, 2016

Cernak Majalah Bobo Edisi15 th.2016: Makhluk Kecil Tanpa Rambut

Setelah sempat vakum nulis cernak karena habis liburan, so ide tulisan yang dibuat pun rada-rada aneh. Tentang tuyul. 

Lha...Tuyul?? Iya   T U Y U L
Ceritanya, selama kami liburan sekitar hampir semingguan, driver yang mengantar kami kemana-mana, setiap harinya bercerita tentang  tuyul yang ditangkap di kampungnya. Serem juga sih...

Tringg... *tiba-tiba lampu ide menyala
Pengen dong idenya dijadiin cermis anak. Tapi,  cerita tuyul pasti  bakal kurang pas buat dibaca anak-anak. So... dibuatlah sedemikian rupa, jadi cerita anak dan dikirim ke Majalah Bobo
Nah, mungkin karena kadar misterinya kurang, dimasukkanlah oleh editor Bobo ke kategori cerpen Bobo.

Mau baca cerita tuyul?  Hayuuk...


Ilustrator: Irman





Majalah Bobo Edisi 15 Tahun.2016
Terbit tanggal 21 Juli 2016


Sempat googling, judul cerita ini pernah dijadikan bahan skripsi untuk mahasiswa Unsoed dengan tema psikologi perkembangan anak. Alhamdulillah, lebih bermanfaat...






Saturday, July 16, 2016

Cernak Majalah Bobo Edisi 13 th.2016: Delman Istimewa


Ini naskah yang spesial. Karena naskah ini sudah melanglang kemana-mana. Pernah  diposting di jumat  hangat paberland, cernak ini saya kirimkan ke koran lokal. Ngga ada  respon dari koran lokal satu, saya  coba kirim ke koran lokal lainnya. Bahkan sampai beberapa koran lokal, belum juga ketemu jodohnya. 

Dari ditulisnya naskah ini  tahun 2014, akhirnya Des 2015 saya coba peruntungannya ke  Majalah Bobo. Ternyata memang di Majalah Bobo-lah  jodohnya. Akhirnya 'Delman   Istimewa' bisa  hadir di Majalah Bobo.  Alhamdulillah...



Ilustrator: Irman





Majalah Bobo Edisi 13 tahun 2016
Terbit 7 Juli 2016



           



Saturday, February 20, 2016

Dongeng Majalah Bobo Edisi 45: Ujian untuk Peri Aira

Majalah  Bobo  edisi  45 ini, spesial buat  saya. Edisi ini memuat  dua dongeng saya. Dan keduanya  hasil memeras ide  di kelas Kurcaci Pos, Mas  Bambang  Irwanto. 

Naskah ini cukup lama menanti untuk dimuat. Hampir satu tahun lamanya! Yup,  sabar menanti datang juga rejekinya untuk naskah  ini... 

Yuk yuk dibaca  teman-teman....  :)    



Ilustrator: Diani



Majalah Bobo Edisi 45
Terbit 10 Feb 2016




Monday, December 21, 2015

Cernak Majalah Bobo Edisi 36: Rahasia Arumi


Tantangan di kelas Kurcaci Pos minggu  ke-sekian adalah membayangkan menulis cerita dengan tokoh  Zahmara. Setelah  cerita  jadi, nama  tokoh lalu  diganti sebelum dikirim ke Majalah Bobo.

Yang membuat saya puas dengan cerita ini adalah adanya ending yang tak  terduga. 'Twist' begitu yang diajarkan  Pak Guru Bambang Irwanto. Arahkan cerita agar pembaca menebak jalan cerita, lalu  belokkan di ending.

Terima kasih ilmunya, mas Baim...  terima kasih Majalah  Bobo sudah  memuat  cerita ini.




Ilustrator: Agus




Majalah  Bobo Edisi 36
Terbit 10 Des 2015


Note:
Naskah ini sempat di browsing, menjadi bahan penelitian mengenai kecemasan pada anak.

https://suaraguru.wordpress.com/2016/08/24/mengenal-kecemasan-anak-dalam-cerpen-anak/


Saturday, December 12, 2015

Cernak Majalah Bobo Edisi 35 : Patung Kayu Buaya

Saat sinopsis ide cerita ini ditulis di kelas Kurcaci Pos  pertemuan pertama, Pak guru langsung komentar, ide ceritanya  twist ending. 

Wah... ilmu menulis baru itu... Ending yang tak terduga.
Tertantang dong,  bikin cerita yang ngetwist... 

Ide ceritanya didapat dari oleh-oleh suami pulang dari tugas lapangan ke hutan di Kalimantan. Selain dapat oleh-oleh cerita,  dapat juga cidera mata patung kayu buaya. Sempat  rebutan ide sama si mbarep yang hobby nulis juga, jadi dulu-duluan eksekusi ide. Dan... emaknyalah yang berhasil duluan mengeksekusi...  hehehe...



Ilustrator: Joko





Majalah Bobo Edisi 35
Terbit 3 Des 2015



Note:
Naskah ini juga dipakai untuk penelitian tentang kecemasan anak.
https://suaraguru.wordpress.com/2016/08/24/mengenal-kecemasan-anak-dalam-cerpen-anak/



Tuesday, September 29, 2015

Cernak Solopos : Jajanan Istimewa

Ide itu ada di dekat-dekat kita. Kita hanya perlu jeli menangkapnya. Seperti ide cerita ini, adalah saat mamanya menggoreng cireng, tapi anak saya sudah kekenyangan duluan jajan cireng di sekolah. 

Tadinya memang cerita ini berkisah tentang cireng. Tapi saya ganti, saat dikirim ke koran lokal Jawa Tengah menjadi kue putu ayu.

Dan ini penampakan dimuatnya jajanan istimewa di Rubrik Anak Harian Solopos.



Rubrik Anak Harian Solopos
Dimuat 27 September 2015


Jajanan Istimewa
Oleh: Ruri Irawati
                   

            Raya suka sekali jajan. Setiap hari uang jajan yang diberikan Ibu selalu habis. Kadang, kalau kehabisan jajanan di kantin sekolah, uang jajan Raya pasti dipakai untuk jajan di rumah. Jajan di warung atau di tukang jajanan yang lewat depan rumah.
            Sebetulnya makanan yang Ibu buat lumayan enak. Tapi sering kali tidak termakan, karena perut Raya sudah kenyang dulu oleh jajanan. Bahkan kadang Raya sengaja tidak mau makan, supaya bisa jajan.
            Sudah seminggu ini, ada sebuah warung jajanan baru saja buka di dekat rumah Raya. Hampir setiap sore pula, Raya jajan ke warung itu. Ada satu jajanan yang Raya sangat suka.
Sore ini Raya pun tak mau absen untuk membelinya. Dengan mengendap-endap, Raya berusaha keluar rumah tanpa diketahui Ibu.
“Nah… nah… mau kemana, keluar rumah sore-sore begini? Sepertinya mau jajan ya?” tanya Ibu yang melihat Raya menggenggam uang. Yaaah… ketahuan deh, pikir Raya.
“Hehehe… iya, Bu. Jajanan di warung baru itu enak. Raya suka….”
Kan di rumah banyak makanan, Raya, kenapa harus jajan? Lagian kamu dapat uang dari mana, katanya uang jajanmu tadi habis untuk jajan di sekolah?” tanya Ibu curiga.
“Ini uang dari Tante Ina, Bu. Waktu Tante Ina datang ke rumah, kasih uang ke Raya banyak. Sampai sekarang belum habis.”
“Uang itu kan harusnya untuk ditabung, bukan dipakai jajan,” omel Ibu sambil geleng-geleng kepala.
“Iya Bu, nanti kalau Tante Ina kasih uang Raya lagi, Raya tabung deh. Sekarang boleh ya Raya jajan ke warung. Jajanan yang Raya suka, takut habis kalau sudah sore,” bujuk Raya. Tanpa menunggu jawaban, Raya langsung kabur meninggalkan Ibu.
***
            Hmmm… Kue putu ayu itu masih tersisa satu lagi. Kue beraroma manis berwarna hijau dengan hiasan kelapa di atasnya. Rasanya manis, lembut dan enak. Kalau lebih sore sedikit, pasti sudah tidak kebagian, Raya tersenyum senang.
            “Adik ini rumahnya dimana?” tanya Ibu pemilik warung sambil menerima uang yang diberikan oleh Raya. Raya tahu Ibu itu penghuni baru di komplek perumahannya. “Dekat dengan rumah Bu Retno, yang di ujung gang itu?” lanjut Ibu warung bertanya. Raya membuka plastik pembungkus kue. Ia memang selalu memakan jajanannya di tempat. Kalau dibawa pulang ke rumah, pasti Ibu marah.
            “Bu Retno itu, ibu saya, Bu,” jawab Raya sambil memasukkan kue beraroma pandan itu ke mulutnya.
            “Lho… anaknya Bu Retno ya! Kalau begitu, Ibu sekalian titip saja. Ini uang penjualan kue titipan Ibumu selama seminggu. Tolong berikan ke Ibumu ya… Oh iya, Adik namanya siapa?” Ibu pemilik warung menyerahkan uang yang ditaruh di atas piring tempat kue yang baru saja habis dibeli oleh Raya.
            “Nggg… Raya, Bu,” jawab Raya terbengong-bengong.
            “Tiap hari selalu habis terjual, memang enak kue putu ayu buatan Ibumu,” katanya sambil tersenyum.
Ditariknya kue yang sudah hampir berada di mulutnya, sambil menerima titipan untuk ibu. Tak jadi Raya mengunyah kue yang biasanya ia habiskan di warung itu.
***
            “Memang kapan Ibu bikin kue putu ayu di rumah, kok Raya nggak pernah tahu?” tanya Raya manyun.
            “Setiap hari. Raya, kan, lebih suka jajan, jadi nggak tau deh kalau Ibu bikin kue enak. Karena Raya nggak suka makanan yang ada di rumah, jadi Ibu jual saja,” goda Ibu. “Memang enak ya, jajanan buatan Ibu? Itu namanya jajanan istimewa,” lanjut Ibu masih tersenyum.
            “Kalau tahu buatan Ibu, Raya, kan, nggak perlu jajan ke warung,” sahut Raya.
            “Sekarang sudah tahu, kan?” tanya Ibu masih menggoda.
“Iya deh… Besok-besok, Raya nggak jajan lagi ke warung, supaya perut Raya cukup untuk makanan di rumah yang Ibu buat.” Raya menyadari kalau kebiasaan jajannya membuat ia tak tahu apa yang dimasak ibunya. “Raya jajannya ke Ibu saja, ya. Ibu buat kue yang enak-enak…” lanjut Raya senang.
“Boleh, Raya. Gratis kok untuk Raya,” jawab Ibu tersenyum.
 “Aaah... kalau gitu, uang jajannya, Raya kumpulkan saja di celengan ayam yang kosong itu,” cetus Raya mendapatkan ide. “Sudah lama Raya jarang mengisinya, Bu,” lanjut Raya dengan suara pelan dan sedikit malu.
“Setuju...” Ibu mengangkat kedua jempolnya. “Itu, masih banyak kue putu ayu, jajanan kesukaanmu di dapur,” lanjut Ibu disambut dengan seruan girang Raya.
 “Asyik…asyik… Nyam nyam nyam enaaak….”   
-o0o-

Saturday, July 11, 2015

Cernak di Majalah Bobo Edisi 12 tahun 2015: Sepatu Beda Warna

Bahagianya... setelah sekian lama 'sabar menanti', muncul juga cerpen pertama saya di Majalah Bobo 

Salah satu pelajaran menulis di kelas Merah Jambu adalah menulis cerita paragraf  per paragraf dari lemparan  gambar per gambar. Saat itu Mbak Nur melempar gambar sepatu dan gambar lain untuk dijadikan ide cerita. 
Maka...  jadilah saya, yang  awalnya tidak bisa menulis cerita anak,  dapat menghasilkan karya cernak pertama yang  dimuat di media cetak. 

Tulisan teman-teman satu kelas MJ pun yang bertema sepatu hampir semuanya lolos dimuat di Majalah Bobo.  

Terima kasih Mbak Nurhayati Pujiastuti  untuk kelas Merah Jambu dan sharing ilmunya. Terima  kasih mentemen seperjuangan mbak Irra Fachrianthy, Novia Erwida, Husna Ilyas, Kalya Innovie,  Nurul Ikoma dan mbak Mutiah  untuk support-nya. Terus menulis ya manteman...:)


Ilustrator cerita: Yoyok





Majalah Bobo  edisi 12
Terbit 25 Juni 2015