Tuesday, September 29, 2015

Cernak Solopos : Jajanan Istimewa

Ide itu ada di dekat-dekat kita. Kita hanya perlu jeli menangkapnya. Seperti ide cerita ini, adalah saat mamanya menggoreng cireng, tapi anak saya sudah kekenyangan duluan jajan cireng di sekolah. 

Tadinya memang cerita ini berkisah tentang cireng. Tapi saya ganti, saat dikirim ke koran lokal Jawa Tengah menjadi kue putu ayu.

Dan ini penampakan dimuatnya jajanan istimewa di Rubrik Anak Harian Solopos.



Rubrik Anak Harian Solopos
Dimuat 27 September 2015


Jajanan Istimewa
Oleh: Ruri Irawati
                   

            Raya suka sekali jajan. Setiap hari uang jajan yang diberikan Ibu selalu habis. Kadang, kalau kehabisan jajanan di kantin sekolah, uang jajan Raya pasti dipakai untuk jajan di rumah. Jajan di warung atau di tukang jajanan yang lewat depan rumah.
            Sebetulnya makanan yang Ibu buat lumayan enak. Tapi sering kali tidak termakan, karena perut Raya sudah kenyang dulu oleh jajanan. Bahkan kadang Raya sengaja tidak mau makan, supaya bisa jajan.
            Sudah seminggu ini, ada sebuah warung jajanan baru saja buka di dekat rumah Raya. Hampir setiap sore pula, Raya jajan ke warung itu. Ada satu jajanan yang Raya sangat suka.
Sore ini Raya pun tak mau absen untuk membelinya. Dengan mengendap-endap, Raya berusaha keluar rumah tanpa diketahui Ibu.
“Nah… nah… mau kemana, keluar rumah sore-sore begini? Sepertinya mau jajan ya?” tanya Ibu yang melihat Raya menggenggam uang. Yaaah… ketahuan deh, pikir Raya.
“Hehehe… iya, Bu. Jajanan di warung baru itu enak. Raya suka….”
Kan di rumah banyak makanan, Raya, kenapa harus jajan? Lagian kamu dapat uang dari mana, katanya uang jajanmu tadi habis untuk jajan di sekolah?” tanya Ibu curiga.
“Ini uang dari Tante Ina, Bu. Waktu Tante Ina datang ke rumah, kasih uang ke Raya banyak. Sampai sekarang belum habis.”
“Uang itu kan harusnya untuk ditabung, bukan dipakai jajan,” omel Ibu sambil geleng-geleng kepala.
“Iya Bu, nanti kalau Tante Ina kasih uang Raya lagi, Raya tabung deh. Sekarang boleh ya Raya jajan ke warung. Jajanan yang Raya suka, takut habis kalau sudah sore,” bujuk Raya. Tanpa menunggu jawaban, Raya langsung kabur meninggalkan Ibu.
***
            Hmmm… Kue putu ayu itu masih tersisa satu lagi. Kue beraroma manis berwarna hijau dengan hiasan kelapa di atasnya. Rasanya manis, lembut dan enak. Kalau lebih sore sedikit, pasti sudah tidak kebagian, Raya tersenyum senang.
            “Adik ini rumahnya dimana?” tanya Ibu pemilik warung sambil menerima uang yang diberikan oleh Raya. Raya tahu Ibu itu penghuni baru di komplek perumahannya. “Dekat dengan rumah Bu Retno, yang di ujung gang itu?” lanjut Ibu warung bertanya. Raya membuka plastik pembungkus kue. Ia memang selalu memakan jajanannya di tempat. Kalau dibawa pulang ke rumah, pasti Ibu marah.
            “Bu Retno itu, ibu saya, Bu,” jawab Raya sambil memasukkan kue beraroma pandan itu ke mulutnya.
            “Lho… anaknya Bu Retno ya! Kalau begitu, Ibu sekalian titip saja. Ini uang penjualan kue titipan Ibumu selama seminggu. Tolong berikan ke Ibumu ya… Oh iya, Adik namanya siapa?” Ibu pemilik warung menyerahkan uang yang ditaruh di atas piring tempat kue yang baru saja habis dibeli oleh Raya.
            “Nggg… Raya, Bu,” jawab Raya terbengong-bengong.
            “Tiap hari selalu habis terjual, memang enak kue putu ayu buatan Ibumu,” katanya sambil tersenyum.
Ditariknya kue yang sudah hampir berada di mulutnya, sambil menerima titipan untuk ibu. Tak jadi Raya mengunyah kue yang biasanya ia habiskan di warung itu.
***
            “Memang kapan Ibu bikin kue putu ayu di rumah, kok Raya nggak pernah tahu?” tanya Raya manyun.
            “Setiap hari. Raya, kan, lebih suka jajan, jadi nggak tau deh kalau Ibu bikin kue enak. Karena Raya nggak suka makanan yang ada di rumah, jadi Ibu jual saja,” goda Ibu. “Memang enak ya, jajanan buatan Ibu? Itu namanya jajanan istimewa,” lanjut Ibu masih tersenyum.
            “Kalau tahu buatan Ibu, Raya, kan, nggak perlu jajan ke warung,” sahut Raya.
            “Sekarang sudah tahu, kan?” tanya Ibu masih menggoda.
“Iya deh… Besok-besok, Raya nggak jajan lagi ke warung, supaya perut Raya cukup untuk makanan di rumah yang Ibu buat.” Raya menyadari kalau kebiasaan jajannya membuat ia tak tahu apa yang dimasak ibunya. “Raya jajannya ke Ibu saja, ya. Ibu buat kue yang enak-enak…” lanjut Raya senang.
“Boleh, Raya. Gratis kok untuk Raya,” jawab Ibu tersenyum.
 “Aaah... kalau gitu, uang jajannya, Raya kumpulkan saja di celengan ayam yang kosong itu,” cetus Raya mendapatkan ide. “Sudah lama Raya jarang mengisinya, Bu,” lanjut Raya dengan suara pelan dan sedikit malu.
“Setuju...” Ibu mengangkat kedua jempolnya. “Itu, masih banyak kue putu ayu, jajanan kesukaanmu di dapur,” lanjut Ibu disambut dengan seruan girang Raya.
 “Asyik…asyik… Nyam nyam nyam enaaak….”   
-o0o-

Monday, August 3, 2015

Cernak di Solopos: Selimut Tedy Bear

Ini cerita yang saya tulis tapi kurang begitu sreg di hati. Konfliknya kurang kuat dan alur ceritanya, "cumi" aka cuma mimpi. Setelah dapat pelajaran dikelas mas baim, memang sebaiknya kita menghindari menulis cerita dengan alur cuma mimpi.

Tapi cerita sudah kadung dikirim, dan dimuat di Solopos. Paling tidak artinya sudah bisa menghibur pembaca rubrik anak di daerah Solo dan Jogjakarta. 

Untuk saya sendiri, tulisan ini bisa untuk bahan untuk belajar. Toh dalam menulis pun  kita terus berproses... Tetap belajar dari karya-karya  yang sudah kita hasilkan... 



Dimuat 02 Agustus 2015

Selimut Tedy Bear
Oleh: Ruri Irawati


            “Jangan dicuci, Bu!” teriak Wawa, sambil menyambar selimutnya dari tangan Ibu. Pagi itu Wawa siap berangkat sekolah. Sebelum sempat melipat selimutnya, rupanya Ibu sudah siap menaruhnya ke wadah cucian kotor.
            “Tapi selimutmu sudah bau, Wawa. Sudah harus dicuci.”
            “Iya, Bu. Maya nggak tahan baunya! Kenapa sih, Wa, selimut bau dipelihara?” gerutu Maya, kakak Wawa.
            “Wawa suka baunya. Kalau dicuci, nanti Wawa nggak bisa tidur, Bu”
            “Kalau nggak dicuci, Kak Maya yang susah tidur, Wa… nggak tahan baunya!” balas Maya, masih manyun. Tak mau berdebat lama, Wawa langsung masuk ke kamarnya bersama selimutnya. Dimasukkannya ke lemari baju, dan klik… terkunci! Wawa meringis puas… sampai nanti pulang sekolah, tak ada yang bisa mengganggu selimutku, karena kuncinya akan kubawa ke sekolah, seru Wawa dalam hati. Ibu memandang dari luar kamar sambil menggelengkan kepalanya.
***
            Selimut Wawa memang spesial untuknya. Selimut bermotif Tedy Bear itu sudah menemani Wawa sejak setahun yang lalu. Suatu kali, Wawa pernah demam tinggi, ia menggigil kedinginan. Tapi selimut itu menemani Wawa sepanjang malam, hingga demamnya turun. Saat demam itu, Wawa merasa berada di padang salju dan hanya di temani oleh Tedy Bear yang selalu memeluknya untuk melawan rasa dinginnya. Sejak saat itu setiap Wawa beranjak tidur, tak pernah ia melepaskan selimut kesayangannya.
***
            Sepulang sekolah, seusai makan dan sholat dhuhur, dibukanya lemari yang Wawa kunci saat berangkat sekolah tadi. Lega rasanya melihat selimutnya masih terlipat rapi di pojok lemari.
            “Bu, Wawa tidur siang dulu ya. Tadi di sekolah capek, Bu, habis pelajaran olahraga,” teriak Wawa sambil menyalakan kipas angin.
            “Sudah sholat belum, Nak?” jawab Ibu dari dapur yang masih sibuk mengerjakan pesanan ketering.
            “Sudah, Bu.” Wawa menghempaskan badannya ke kasur. Ditariknya selimut kesayangannya menutupi tubuhnya. Hmm… nyaman…
***
            “Wawa…” Wawa menengok ke arah suara yang memanggil namanya. Ternyata suara itu datang dari seekor beruang yang tampak tak asing di mata Wawa. Wajah Wawa merekah senang.
            “Tedy Bear! Senangnya bisa bertemu lagi!” seru Wawa sambil memeluk beruang itu.
            “Ya, akupun begitu. Aku sedang ingin bermain denganmu, Wawa. Ayo, kita main ke danau, di sana banyak ikannya.”
            “Ayo Tedy Bear, sepertinya asyik!” seru Wawa girang. Wawapun bergandengan dengan Tedy Bear berjalan menuju danau dari bangku taman tempat Wawa menikmati semilir angin sepoi-sepoi.
            Setibanya di danau, air danau terlihat begitu jernih. Wawa bersorak girang melihat ikan-ikan yang besar dan banyak di dalam danau yang tampak dangkal itu.
            “Ayo Tedy Bear, tangkap ikan-ikan itu!” seru Wawa loncat-loncat kegirangan. Tedy Bear segera melangkahkan kakinya ke dalam danau dan meraup ikan sebanyak-banyaknya. Wawa memekik senang. Lalu, Tedy Bear berjalan keluar danau dan mendekati Wawa yang masih asyik duduk di pinggir danau. Ikan-ikan yang sudah diraupnya dan diserahkan ke Wawa sambil mengajak Wawa turun ke danau. Tapi Wawa tak mau menerima ikan itu, bau amis yang tertangkap hidungnya membuat pusing kepala Wawa.
            “Aku nggak mau pegang ikan itu… bau!” teriak Wawa menutup hidung sambil berlari menjauh, “Tedy Bear, kaupun baunya sama dengan ikan-ikan itu, bau amis,” lanjut Wawa. Tedy Bear tertawa lebar.
            “Memang Wawa tak suka bau amis ini? Kalau begitu aku akan berhenti bermain dan membersihkan bau amis ini. Supaya Wawa mau main denganku lagi,” jawab Tedy Bear.
            “Iya Tedy Bear, kau lepaskanlah dulu ikan-ikan itu kembali ke danau. Lalu kau berendam saja di danau sebelah sana supaya baumu hilang. Aku akan menunggumu,” seru Wawa sambil menunjuk sebelah danau yang tak banyak ikannya. Tedy Bear mengangguk. Tapi sayang, Wawa tak bisa menunggu lama karena ia harus terbangun dari tidurnya.
            Wawa mengucek matanya. Rasanya ia masih berada di alam mimpi bersama Tedy Bear. Bau amis Tedy Bear dan ikan-ikan itu masih tercium dari selimutnya. Segera ia beranjak dari tempat tidur sambil membawa selimut kesayangannya itu.
            “Sudah bangun, Nak? Eh, mau dibawa kemana selimutnya, Wa? Mau diumpetin lagi ya?” tanya Ibu bercanda.
            “Mau Wawa cuci, Bu. Ternyata bau nggak enak itu bikin pusing,” jawab Wawa malu. Ibu tersenyum.
Rupanya Wawa tidak tahu kalau Ibu sempat menengok dan mengembalikan selimut Wawa yang jatuh ketika Wawa tidur siang. Tangan Ibu masih tertempel bau ikan saat memasak di dapur. Dan bau amisnya, menempel ke selimut Wawa.
            “Memang, barusan mimpi apa sih?” goda Ibu.