Thursday, February 12, 2015

Cerita Anak Padang Ekspress

Alhamdulillah...  Ini  cernak pertama yang menembus media cetak. Hasil dari menulis di kelas. Sengaja memang nggak  dikirim ke Majalah Bobo. Dalam cerita ini tokohnya  masih anak  pra sekolah, sedangkan  Bobo kebanyakan memuat cerita tentang anak-anak SD.

Walaupun korannya nun jauh di Padang, thanks to Uni Novia yang sudah kirim-kirim  penampakannya.



Rubrik Ceria  Harian Padang Ekspress
Dimuat  8 Februari 2015


Berani Tidur Sendiri
“Lala kenapa, kok melamun? Belum bisa tidur ya? Masih mikirin apa sih, Lala kok keliatan serius banget sudah malam begini?” tanya Mama agak khawatir.
“Emm… Ma, kalau adik sudah lahir, Lala masih boleh tidur sama Mama nggak di kamar Mama?” tanya Lala dengan wajah gundah. Tangannya mengelus perut Mama yang sudah terlihat besar sekali.
“Emm… Bagusnya Lala sudah berani tidur sendiri di kamar Lala. Nanti kan kalau adik bayi sudah lahir, setiap malam bisa nangis terus. Tidur Lala pasti terganggu.”
“Tapi Ma, Lala takut tidur sendiri. Lala takut ada monster gigi tajam datang ke kamar Lala,” sahut Lala sambil bergidik.
“Nggak kok, nggak ada itu monster gigi tajam. Itu hanya ada di pikiran Lala. Kalau Lala takut, setiap malam mau tidur Lala berdoa dulu.”
“Lala sudah berdoa Ma, tapi tetap takut.” Lala memeluk mamanya. Setelah merasa aman dan nyaman, Lalapun terlelap.
***
            Belakangan ini Lala merasa tidak tenang, apalagi melihat perut mama yang semakin membesar. Itu tandanya adik bayi akan segera lahir. Mamanya sudah berpesan, kalau adik sudah lahir, Lala harus berani tidur di kamar Lala sendiri. Sudah dari Lala mulai masuk TK, kamar itu disiapkan untuk Lala. Tapi setiap Lala mencoba tidur di kamar Lala, bayangan monster gigi tajam selalu datang menghantui Lala. Tia, teman sekelas Lala di TK pernah bilang, kalau monster gigi tajam itu sukanya mendatangi anak yang tidur sendiri. Karena itulah Lala takut sekali kalau disuruh tidur di kamarnya sendiri.
            “Ma, tadi malam Lala mimpi seram deh Ma… tapi seru…”
            “Oh ya?” Mama menengok ke arah Lala sambil menyiapkan bekal sekolah Lala. “Mimpi seramnya apa, mimpi serunya apa?” lanjut Mama.
            “Lala mimpi dikejar monster gigi tajam Ma…”
            “Ketangkap?”
            “Nggak, pas monsternya sudah dekat Lala, Lala lari lewat jembatan gantung yang tinggi, dibawahnya jurang dalam banget Ma. Tadinya Lala takut lihat jurang, tapi daripada ketangkap monster Lala terpaksa lari lewat jembatan itu.”
            “Terus?”
            “Terus Lala sampai deh nyebrang jembatannya, Lala tengok ke belakang monsternya masih ngejar lewat jembatan. Tapi jembatannya nggak kuat Ma, monsternya besar. Jembatannya roboh, terus monsternya jatuh deh ke jurang. Seru Ma… takut tapi seru!” Mama mendengarkan cerita Lala sambil tersenyum. Hmmm… ada ide, pikir mama.
            “Iya, seru mimpinya La. Tahu nggak La, sebenarnya orang bermimpi itu kadang ada artinya lho,”  kata mama memancing. Mata Lala membesar.
“Masa’ sih ma? Berarti mimpi Lala ada artinya dong? Mama tahu nggak artinya mimpi Lala?” tanya Lala bertubi-tubi. Penasaran.
“Emmm… Mama pikir dulu ya,” sahut mama sambil mengetukkan telunjuk dibawah bibirnya. “Sepertinya artinya begini, Lala sudah bisa mengalahkan ketakutan Lala sama monster dan jembatan tinggi. Jadi, Lala sudah nggak takut lagi tidur di kamar Lala sendiri, karena Lala sudah menang lawan monster.”
“Begitu ya Ma… Monsternya sudah kalah lawan Lala. Kalau gitu nanti malam Lala mau coba tidur sendiri Ma.”
“Pintar anak mama… Ya sudah, sekarang ayo berangkat sekolah, nanti Lala terlambat.”
***
            Malam ini Lala mencoba tidur di kamarnya. Matanya sempat terlelap ketika Mama masih menemaninya. Selepas, mama menutup pintu saat keluar dari kamar, Lala terbangun. Pikiran Lala bercampur aduk, antara takut, waspada dan ingin pindah ke kamar mama. Tapi hatinya akhirnya memutuskan untuk tetap tidur di kamarnya. Sambil memeluk gulingnya, Lala terus mengulang “monsternya sudah kalah… monsternya sudah kalah... monsternya sudah...” dan Lalapun tertidur sampai keesokan paginya.
***
            “Ma, tadi di sekolah bu guru tanya di kelas, siapa yang sudah berani tidur sendiri? Lala angkat tangan dong Ma,” seru Lala dengan riang sepulang sekolah.
            “Hebat! Terus ada teman Lala yang masih tidur sama mamanya?”
            “Ada Ma… banyak! Tia masih bobo sama bundanya Ma. Tia masih takut sama monster gigi tajam.”
            “Memang Lala sudah nggak takut lagi?”
            “Nggak Ma, monsternya sudah kalah kan. Mungkin Tia harus mimpi dulu ketemu monsternya, terus ngelawan terus bisa ngalahin deh. Jadi nggak akan takut lagi seperti Lala hehehe…”
            “Anak mama memang berani, hebat!” seru Mama sambil memeluk Lala.

-o0o-

Monday, January 12, 2015

Gado-Gado Majalah Femina

Alhamdulillah... senang tak terkira waktu dapat sms yang  isinya menanyakan  apakah naskah berjudul  Omelan Manis orisinal dan belum  dimuat di media manapun.

Beneran seneng... pengalaman pertama, dapat konfirmasi tulisan bakal dimuat  di media cetak. Rasanya sih berbunga-bunga... Pengennya senyum-senyum sendiri sambil baca ulang tulisan yang udah dikirim plus ngebayangin, seperti apa penampakannya di majalah nanti... hihihi... norak yah..
Gapapa deh...norak-nya sekali sekali ini.

Dan, beginilah bentuknya penampakannya... 




Majalah Femina No. 51/XLII 27 
Terbit Des 2014 - 7 Jan 2015


Omelan Manis


Omelan manis… Apa ada yang seperti itu? Dimana-mana, namanya orang mengomel pasti tak pernah ada manis-manisnya. Gerutuan dengan bibir manyun-manyun, kadang ditambah mata sedikit melotot, lengkap sudah. Beberapa wanita, apalagi seorang ibu dengan anak-anak yang masih kecil-kecil, mungkin pernah melakukannya.
Saya adalah seorang tipe istri dan ibu pengomel. Sepertinya sifat itu diturunkan dari ibu sewaktu saya dan kakak masih kecil. Tapi belakangan setelah kami dewasa, omelan ibu berkurang dengan sendirinya, walaupun tak sepenuhnya hilang. Sewaktu kecil, menghadapi omelan ibu setiap harinya terasa seperti mendengar burung berkicau setiap pagi. Hampir tidak pernah absen. Sekarang, ketika saya menjadi ibu dengan dua anak yang masih duduk di bangku SD dan seorang bayi, kebiasaan itu ganti saya sandang.
Mungkin sekarang hal yang sama dihadapi oleh suami dan ketiga putri saya, kecuali si bayi tentunya. Mendengar omelan saya, seakan sudah menjadi sarapan setiap pagi. Beberapa ada yang dianggap serius, sebagian lagi seakan masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Saya paham sekali itu. Dulupun saya pernah berada di posisi seperti mereka.
Kalau dipikir-pikir, sebetulnya penyebab omelan itu meluncur bukanlah ha-hal yang terlalu serius. Masalah-masalah seputaran kebiasaan jelek di dalam rumah, sedikit banyak menambah volume pekerjaan rumah tangga. Kebiasaan kecil tapi lumayan merepotkan. Apalagi untuk saya, yang memutuskan untuk tidak dibantu oleh asisten rumah tangga.
Seperti kebiasaan suami yang tidak mau memasukkan kaos kaki kotornya ke dalam wadah cucian kotor atau ketika tulang-tulang ayam yang masih tersisa di piring langsung diletakkan di bak cucian piring padahal ada tempat sampah persis dibawahnya. Ada lagi kebiasaan si sulung yang selalu menaruh buku-buku atau surat-surat penting dari sekolahnya di mana-mana. Ketika perlu untuk dibaca kembali, seisi rumah harus ikut heboh untuk mencarinya. Juga kebiasaan adiknya yang sering menaruh handuk di sofa keluarga ketimbang menjemur di tempat yang sudah disediakan. Dan masih banyak  kebiasaan lainnya yang menurut saya harus selalu diingatkan.
Pada awalnya niat saya hanya mengingatkan saja. Dan saat diingatkanpun, mereka menjawab seakan tahu kalau kebiasaan itu adalah salah. Sehari dua hari mereka ingat, tapi hari-hari berikutnya kebiasaan itu berulang lagi. Kalau sudah begitu, omelan dan gerutuanlah yang keluar.
Kadang lucu juga mendengar tanggapan mereka dengan omelan mamanya.
“Hayo, hari ini siapa ya yang diomelin Mama?” canda si sulung.
“Kayaknya bagian Ayah deh… Ayah lupa naruh pisau di kandang burung buat potong pisang. Eiiits… jangan ngomel dulu Ma, segera Ayah kembalikan!” Saya tertawa dalam hati, padahal pisau itu belum saya butuhkan di dapur.
Namun, ada satu waktu ketika saya berhenti mengomel. Itu terjadi ketika suatu hari suami saya dengan tidak sengaja melontarkan kata-kata yang membuat saya tersinggung. Kali itu saya tidak mengganggap itu adalah hal yang remeh temeh. Perasaan saya sedih tak terkira sehingga tak terpikirkan lagi tentang hal-hal kecil seputaran kebiasaan-kebiasaan jelek suami dan anak-anak. Saya begitu tenggelam dalam kesedihan saya. Pekerjaan rumah tangga saya lakukan seperti biasanya, namun kali itu saya kerjakan dengan diam, tanpa suara. Awalnya anak-anak merasa senang karena omelan yang biasanya beredar tiba-tiba menghilang. Hari-hari berikutnya, mereka gelisah. Aura di dalam rumah berubah, menjadi tidak nyaman. Tak seriang ketika Mama sering mengomel. Suamipun sudah berusaha meminta maaf, karena kata-kata yang kemarin dia ucapkan itu bukan bermaksud seperti apa yang saya pikirkan. Tapi luka di hati tak semudah itu untuk dihilangkan.
“Ayah, Mama kenapa sih kok jadi pendiam gitu?” tanya si adik.
“Sttt… Mama masih sakit dek. Ayah juga ingin Mama bisa cepat sembuh. Ayah kangen diomelin Mama.”
“Iya Yah… suasana rumah jadi nggak enak kalau Mama sakit,” si sulungpun ikut berkomentar.
Mendengar percakapan mereka, sedikit terobatilah kesedihan saya. Tak boleh saya biarkan berlarut-larut, akhirnya saya memutuskan.
“Ini mainan siapa ya, yang nggak dikembalikan ke tempatnya? Tuh jadinya keinjak Mama kan… Duh, surat undangan arisan kemarin kamu simpan dimana, mbak? Ayah, kok gunting dapur menghilang lagi?”
Mereka tergopoh-gopoh mendengar omelan Mamanya lagi.
“Horeee… Mama sudah mengomel lagi, tandanya Mama sudah sehat!” seru si sulung girang.
“Makasih ya, Ma, omelan Mama manis deh…,” kata Ayah sambil mengedipkan matanya.


-o0o-